Minggu, 24 Juli 2011

hujan

perlahan air turun mengiringi perjalananku dan dia,
menyamarkan air mata di pipiku..
saat itu kesedihan mencambuk perasaanku,
rasanya ingin segera aku berlari melewati keadaan ini..
dia masih setia dengan ke-egoisannya,
entah benda apa yang menyelimuti hatinya hingga keras..
aku hanya dapat menatap bola matanya,
berharap masih ada sedikit cinta yang tersisa..
namun tidak untuk kali ini,
ternyata dia masih tetap berdiri dengan ke-egoisannya..

aku tak kuasa menahan rasa rindu untuk memeluknya,
karena aku tau itu merupakan pelukan terakhir..
hujan seakan mengecupku dengan seribu bibir,
saat itu pula aku ingin sejenak menghentikan waktu..
satu doa yang aku kirim saat itu,
aku ingin terus bersama dengannya..
menatap bola matanya,
dan memeluknya di bawah hujan..
Keputusan Terakhir

tadi malam adalah malam terdingin yang pernah aku rasakan,
debu di jalan pun enggan untuk sekedar aku sentuh..
semua hal demi mempertahankan hubungan sudah aku lakukan,
namun itu semua tidak cukup membuat dia luluh..

perasaan terbukti lebih tajam dari pisau,
apa yang aku rasa ternyata memang benar adanya..
dia yang aku cinta kini memilih untuk berlalu,
aku hanya mampu menyimpan isak di dada..

hanya satu yang aku minta,
sebuah kecupan hangat untuk aku simpan sebagai kenangan..
harus aku akui bahwa dia adalah sejatinya cinta,
mulai detik ini harus aku hapus segala cita dan harapan..

Sabtu, 23 Juli 2011

tawa dan air mata

untuk kesekian kalinya aku menangis karna alasan yang sama,
apa yang sebenarnya dia inginkan?
aku benar-benar tak berdaya dibuatnya..

aku telah bersahabat dengan keadaan ini,
bahkan aku telah menerima pedih ini sebagai takdir!
perbedaan mencuatkan rasa pesimis dan egois..

ternyata aku tidak cukup mengenal dirinya,
dia selalu berubah dan membuat aku melampirkan banyak tanya?
kini biarlah waktu yang meleburkan tawa dan air mata..