Rabu, 27 Juni 2012

Kasus Terapi Perilaku

Contoh Kasus Behaviour Therapy (Terapi Perilaku) Contoh kasusnya: Albert Einsten yang dikenal sebagai ahli/penemu, dengan kekurangannya dia berhasil menemukan teori relativitas yang belum tentu bisa dilakukan oleh orang normal. Disini dia memiliki potensi yang tertutupi dan tidak diketahui oleh orang lain. Ternyata dibalik itu, dia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang normal biasanya. Terapi perilaku, berupaya untuk melakukan perubahan pada anak autistik dalam arti perilaku yang berlebihan dikurangi dan perilaku yang berkekurangan (belum ada) ditambahkan. Dalam terapi perilaku, fokus penanganan terletak pada pemberian reinforcement positif setiap kali anak berespons benar sesuai instruksi yang diberikan. Tidak ada hukuman (punishment) dalam terapi ini, akan tetapi bila anak berespons negatif (salah/tidak tepat) atau tidak berespons sama sekali maka ia tidak mendapatkan reinforcement positif yang ia sukai tersebut. Perlakuan ini diharapkan meningkatkan kemungkinan anak untuk berespons positif dan mengurangi kemungkinan ia berespons negatif (atau tidak berespons) terhadap instruksi yang diberikan. Untuk menjadikan anak autis menjadi orang yang luar biasa, kita hanya perlu memberikan kasih sayang dan terapi autisme agar anak bisa berkembang dengan baik. Seperti yang telah kita ketahui, anak autis biasanya mempunyai masalah dengan perilaku dan interaksi dengan orang lain (komunikasi). Sehingga ketika kita ingin memberikan terapi autisme pada anak kita bisa mengacu pada dua hal tersebut. http://jonbares.wordpress.com/2012/04/17/kasus-terapi-perilaku/

Tujuan terapi DBT, MBT, TFP, SFT, GPM dan STEPPS

Tahap 1 Pada Tahap 1, psikoterapi melengkapi tujuan utama untuk mencapai manajemen pengobatan yang optimal dari gejala paling menyedihkan dan diarahkan pada fitur umum dari gangguan borderline. Oleh karena itu, tujuan utama terapi di Tahap ini adalah: ● Meningkatkan keselamatan ● Meminimalkan ancaman terhadap kepatuhan pengobatan dan partisipasi teratur dalam terapi ● Mengurangi perilaku impulsif dan berbahaya yang merugikan diri sendiri ● Mendiagnosa dan mengobati segera semua co-terjadi gangguan, gangguan zat terutama penggunaan dan eisodes depresi utama ● Meningkatkan dasar perawatan diri misalnya, makan, tidur, perawatan dan kegiatan rutin sehari-hari ● Memvalidasi perasaan, dan ● Meningkatkan motivasi Tahap 2 Pada Tahap 2, Terapi bergeser secara bertahap dengan tujuan dan metode terapi dari yang umum untuk mengatasi gejala khusus dan tingkat fungsi. Misalnya, tujuan mungkin termasuk banyak dari yang berikut: ● Memvalidasi perasaan; meningkatkan pengakuan manajemen mereka dengan terlibat dalam perubahan yang sesuai dalam sikap dan perilaku ● Meningkatkan keselamatan dengan mengembangkan metode yang efektif perilaku alternatif untuk menangani masalah ● Mengurangi perilaku impulsif dan berbahaya, terutama mereka yang merugikan diri sendiri dan bunuh diri ● Mengidentifikasi, kemudian memodifikasi persepsi yang tidak akurat dan pola pikir, seperti split-berpikir ● Meningkatkan keterampilan interpersonal dan kualitas hubungan ● Meningkatkan harga diri dan mengurangi keputusasaan ● Belajar keterampilan baru cukup baik memanfaatkan mereka secara rutin Sebagaimana disebutkan di atas, tujuan jangka pendek dan jangka panjang tertentu dan metode batas gangguan khusus psikoterapi bervariasi dari satu jenis terapi yang lain. Idealnya, terapis akan dapat dengan mudah berpindah dari strategi satu metode yang lain dalam kecerdasan sesuai kebutuhan. Dialektis Perilaku Terapi Terapi perilaku dialektis (DBT) merupakan modifikasi dari CBT . Ini dikembangkan awalnya untuk pasien dengan gangguan borderline , terutama yang terlibat dalam perilaku merusak diri sendiri dan merugikan diri sendiri sering. DBT didasarkan pada konsep bahwa gejala gangguan borderline adalah hasil dari gangguan biologis yang melekat pada mekanisme otak yang mengatur respon emosional. Hasil perilaku awal gangguan ini diperbesar sebagai anak berinteraksi dengan orang tua dan orang lain yang tidak mengerti dan memvalidasi (mengakui dan menerima) tingkat rasa sakit emosional anak, dan yang tidak membantu anak untuk belajar keterampilan yang efektif untuk mengatasi dia atau penderitaannya. Sasaran perilaku utama DBT adalah: Penurunan perilaku bunuh diri, Mengurangi perilaku tersebut yang mengganggu terapi dan kualitas hidup, Meningkatkan keterampilan perilaku, Mengurangi perilaku yang berkaitan dengan posting stres traumatik Mentalization Berbasis Terapi (MBT) MBT dikembangkan oleh Bateman dan Fonagy sebagai pengobatan spesifik untuk gangguan borderline. Diusulkan bahwa orang dengan gangguan borderline terbatas dalam kemampuan mereka untuk konsep (mentalize). MBT didasarkan pada pemahaman tentang dasar neurobiologis dari sistem otak yang mendasari gejala dan perilaku yang merupakan ciri khas dari gangguan ini. Penggunaan klinis MBT ditandai sebagai memiliki empat fitur utama: 1) Terapis memfokuskan secara eksklusif pada pasien, perasaan pikiran, keinginan 2) Terapis menghindari diskusi yang tidak terkait dengan realitas subyektif 3) Penciptaan dalam terapi iklim di mana pikiran dan perasaan dapat dianggap 4) Pemahaman yang disempurnakan perasaan dan pikiran. Praktek MBT oleh terapis ditingkatkan oleh ketersediaan pedoman khusus dan bahan pelatihan lainnya dalam buku mereka. Diusulkan bahwa MBT mungkin paling dekat dengan TFP dalam orientasi untuk keadaan mental dalam konteks lampiran. Untuk mendukung hal ini adalah penelitian menemukan bahwa mentalization lampiran terkait (kapasitas reflektif) membaik pada TFP, tapi tidak dalam DBT atau SPP. Transferensi Terfokus Psikoterapi (TFP) TFP adalah bentuk tertentu dari psikoterapi psikodinamik yang telah dikembangkan secara khusus untuk pasien dengan gangguan borderline. Sebuah ciri khusus dari TFP, berbeda dengan pengobatan lain untuk gangguan borderline, adalah keyakinan bahwa gangguan psikologis dalam struktur kepribadian mendasari gejala spesifik dari gangguan Gangguan ini. membagi persepsi individu menjadi ekstrem buruk dan baik split, yang menentukan cara mereka mengalami sendiri dan orang lain. Singkatnya, dia menentukan pengalaman mereka tentang realitas. Perawatan di TFP awalnya berfokus pada pengaturan dengan pasien perjanjian perilaku yang berkaitan dengan ancaman kemungkinan yang mungkin terjadi dalam proses pengobatan, baik untuk pengobatan dan untuk kesejahteraan mereka . Terapi kemudian pindah ke memodifikasi gangguan psikologis primer dan mengurangi gejala, terutama dengan memeriksa, memahami dan meningkatkan interaksi pasien dengan terapis. Skema-Terfokus Terapi (SFT) SFT secara khusus dikembangkan untuk mengobati gangguan borderline. Tidak seperti jenis lain dari terapi untuk gangguan ini, ia menawarkan integrasi terstruktur teknik terapi perilaku psikodinamik, mendukung dan kognitif. SFT didasarkan pada premis bahwa orang dengan gangguan borderline memiliki struktur kepribadian lebih kaku, masalah psikologis kronis dan sistem kepercayaan sangat dipegang tapi tidak akurat dibandingkan mereka yang tanpa gangguan. Di antara gejala yang paling sulit adalah perubahan yang sangat cepat dalam suasana hati dari cinta untuk membenci dan lebar total dan keparahan dari semua gejala yang dilaporkan. Sistem Pelatihan untuk Prediktabilitas Emosional dan Problem Solving (STEPPS) STEPPS adalah rawat jalan kelompok perlakuan program yang dikembangkan pada tahun 1995 oleh Nancee Blum untuk melengkapi, tetapi tidak mengganti, pengobatan lain (s) seperti psikoterapi individual dan obat untuk pasien dengan gangguan borderline. Tujuan yang dinyatakan STEPPS adalah untuk: ● Sepenuhnya manualized ● Mudah diajarkan dan diterapkan di berbagai pengaturan ● Menyediakan konten yang spesifik / metode untuk setiap sesi Secara konseptual, dalam gangguan STEPPS perbatasan dipandang sebagai gangguan regulasi emosi dan perilaku, termasuk gangguan persepsi seperti berpikir semua atau tidak sama sekali (membelah). Ini dikembangkan untuk mengatasi gejala utama dari gangguan, dan untuk menghindari keterbatasan DBT dan MBT. DBT membutuhkan komitmen waktu yang lebih besar (2 ½ jam per minggu dari pelatihan keterampilan selama satu tahun ditambah satu jam dengan terapis DBT dilatih oleh pengembangnya dibandingkan dengan jam 2 setiap sesi kelas minggu STEPPS lebih dari 20 minggu ditambah perawatan dengan ahli terapi saat ini. http://jonbares.wordpress.com/2012/03/13/terapi-psikologi/

Psikoterapi Untuk Gangguan Borderline

Ada enam jenis psikoterapi untuk gangguan borderline yang memiliki bukti penelitian efektivitas, antara lain: 1. Terapi Perilaku dialektis (DBT) 2. Mentalization Berbasis Terapi (MBT) 3. Transferensi Psikoterapi Terfokus (TFP) 4. Skema-Terfokus Terapi (SFT) 5. Umum Psikiatri Manajemen (GPM) 6. Sistem Pelatihan untuk Prediktabilitas Emosional dan Pemecahan Masalah http://jonbares.wordpress.com/2012/03/13/terapi-psikologi/

Teori dan Praktek Psikoterapi (Eksistensial)

Analisa Eksistensial 1. Teori Proses Teraopatik Analisa Eksistensial melihat ketidakotentikan hidup adalah sumber psikopatologi, maka keotentikan adalah jalan keluarnya. Adapun proses vitalnya adalah proses peningkatan kesadaran (consciousness raising). Pasien diarahkan sebagai subjek dengan kebebasannya memilih, tanggung-jawab dan memaksimalkan potensinya. a. Peningkatan kesadaran Pasien dibiarkan menjadi dirinya, bukan diarahkan seperti keinginan teraupatis. Kebanyakan pasien akan mengulang-ulang pola terdahulunya dalam berelasi dan membentuk relasi tranferensi. Ini adalah upaya menyembunyikan kondisi asli si-pasien. Dengan dibuka, disadarkan sebagai “person”, maka akhirnya sipasien membuka ketidak-otentikannya. Misalnya dia mengatakan; bukankah kemarahan, menangis itu kekanak-kanakan? Terapis akan mengatakan tidak! Bila perlu marah, marahlah. Pasien dianggap mengalami kemajan bila ia mau meninggalkan pengalaman egosentrisnya, dan masuk kedalam dialog yang lebih jujur atau otentik dengan terapisnya.[16] Ini problem psikoterapis-Eksistensial, ia tidak membuat jejak, bagaimana membuat pasien meningkat kesadarannya. Mereka tidak sepakat dengan sistematika terhadap terapi-Eksistensial, karena hakekat terapi sendiri adalah pertemuan sejati antara terapis dan pasien ( kata Biswanger dan Boss). Mereka sepakat bahwa kerja terapis dimulai dengan pemahaman atas dunia fenomenal pasien, yakni berusaha mengalami bangunan yang unik dari dunia subjektif dari pasien tanpa memasukkan prasangka-prasangka terapis kedalamnya. Para terapis untuk mengorek itu menggunakan prosedur klarifikasi untuk pengungkapan dimensi atau aspek tertentu yang disembunyikan si-pasien. Atau si-terapis mengungkapkan pengalamannya sendiri guna mendapat tanggapan yang jujur dari sipasien [dengan itu biasanya si-pasien, keluar dari proteksinya]. b. Pemilihan Dijelaskan pada si-pasien bahwa dalam hal apapun pilihan ada padanya, bahkan saat memilih siapa terapisnya, datang atau tidak saat terapi dan seterusnya. Pilihan dan tanggung-jawab ada pada si-pasien. Pasein dijelaskan bahwa apapun karena dia adalah “subjek”, diharapkan ia mengambil keputusan, dengan berbagai alternative pilihan, tidak semua diketahui hasilnya. Tetapi harus memilih, semua manusia seperti itu dan dalam pilihannya itu, ia akan mendapatkan hasil “susah, gembira”, dengan semuanya itu diharapkan ia dengan berkata “Ya” untuk mengambil tanggung-jawabnya. Jalan menuju keotentikan pada dasarnya adalah jalan kesunyian dimana hanya kita [si-pasien] sendirilah yang harus bertanggung-jawab atas pilihan-pilihan yang diambilnya.[17] Kadang saat terapi, pasien ingin menjadi tidak otentik, ia menyerahkan pengambilan-pengambilan keputusan, pilihan dari terapis. Misalnya dengan kata-kata; apa yang harus saya lakukan? (ia menolak untuk mengambil keputusan, dan diserahkan kekuasaan itu pada terapis) Saya kok tidak dapat hasil apa-apa dari terapi ini setelah sekian lama dok? (hasil atau tidak, terus atau berhenti terapi, pasienlah yang harus memutuskan). Dan seterusnya. Teori isi teraupatik Analisis Eksistensial membantu si-pasien mengatasi konflik ada-dalam-dunia, ada-bersama-oranglain dan ada-dalam-diri-sendiri. Sekaligus melangkah keseberang konflik-konflik itu, menuju pemenuhan diri (self-full-filment) a. Konflik-konflik intrapersonal Dalam Kecemasan-Eksistensial seperti; kematian, penderitaan, ketuaan dan lain-lain, analis Eksistensial hanya memberikan jalan, bahwa itu harus diterima sebagai konsekuensi kita sebagai individu. Bukan dibuat ‘barier’ dengan berbohong (mengatakan ia bisa muda terus-menerus), diproyeksikan bahwa ini semua bukan dari dirinya dari factor luar dan lain-lain. Menerima secara berani kecemasan Eksistensial sebagai bagian dari keberadaan dan sebagai harga yang harus dibayar bagi keotentikan yang ingin dicapai. b. Konflik-konflik interpersonal Problem utama masalah ini biasanya adalah’ keintiman, seksualitas dan komunikasi juga kebencian dan hasrat untuk menguasai. Analis Eksistensial hanya memberikan resep bahwa “Kamu” adalah subjek, dengan segala atribut ke-subjek-annya. Bebas memilih, diciptakan untuk mengisi semua potensi yang mungkin bagi dirinya, bertanggung-jawab terhadap pilihan itu dan seterusnya. Kekurangan-kekurangan dalam masalah konflik interpersonal, analis hanya menunjukkan Subjek-lah yang mampu mengatasi. Analis hanya mengarahkan supaya si-pasien benar-benar menjadi subjek, dengan mencari upaya-upaya penyelesaian obat-obat disetiap problemnya. c. Konflik individu versus lingkungan Mereka mempertanyakan, bagaimana individu bisa sehat jika masyarakat tempat mereka menyesuaikan diri adalah masyarakat yang tidak bisa memperbedakan antara yang benar dan yang tidak benar. Ambiguitas dalam soal kebenaran dan ketidakbenaran ini, menurut para eksistensialis, amat terasa pada masyarakat modern. Dalam situasi semacam ini [robotisasi, otomatisasi alienasi dan seterusnya], jika individu ingin sehat, dia haruslah sadar dan berani memikul tanggung jawab untuk menjadi dirinya sendiri alih-alih meniadi pengekor orang lain atau menjadi bidak massa. Menjadi diri sendiri adalab meng-ada-bersama-orang lain tanpa menjadi milik orang lain. Pendek kata, dengan kesadaran dan keberaniannya, individu bisa dan harus melampaui lingkungannya. Kita lihat contoh-contohnya; Mahatma Gandhi, Khomeini dan lain-lain. d. Keseberang konflik menuju pemenuhan diri Tujuan analisis eksistensial tidak hanya membantu individu atau pasien untuk menyelesaikan konflik-konflik yang dialaminya, tetapi juga membantu pasien untuk melangkah ke seberang koflik menuju pemenuhan diri. Makanya individu perlu bertanya kepada dirinya sendiri: Adakah sesuatu yang saya perjuangkan? Untuk apa sesuatu itu saya perjuangkan? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini, jika muncul di dalam terapi, bisa menakutkan, tetapi bisa juga memotivasi pasien untuk meninggalkan langkah-langkah yang memberi rasa aman tetapi tidak memberikan makna bagi keberadaannya. Sebaliknya, jika pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak muncul dan atau dihindari, maka pasien akan lebih jatuh ke dalam keadaan depresi, suatu keadaan yang menandai sense of meaninglessness. Teori relasi terapeutik Relasi antara pasien dengan terapis akan berjalan baik bilarelasinya adalah Aku-Kamu. Artinya tidak ada yang mencoba untuk mengobjektivasi pasien-terapis. Makanya terapis haruslah lebih otentik dan sehat dari-pada pasien.[18] Validasi uraian Fenomenologi-Eksistensial Van Kaam (1966) mengatakan; “pengalaman-pengalaman seperti tanggung-jawab, ketakutan, kecemasan, keputusasaan, kebebasan, cinta, keheranan, dan keputusan tidak dapat diukur dan dieksperimenkan. Kesemua pengalaman itu semata-mata ada dan hanya bisa diterangkan apa adanya”. Ada beberapa cara untuk validasi hal-hal diatas yaitu; Metode intrasubjektif Misalnya dengan menguraikan tentang tingkah laku yang sama, yang muncul dalam situasi-situasi berbeda, kemudian uraian itu di diperbandingkan. Jika uraian-uraian itu ternyata konsisten dengan gambaran yang terdapat pada urian yang lain, maka uraian-uraian itu bisa dikatakan valid. [19][Secara umum jalannya adalah; 1) melihat fenomena-fenomena masyarakat yang beragam dan kacau balau. Disini kita melihat-lihat fakta-fakta religius (baik itu pikiran, tindakan, perasaan dan maksud-maksud dari seseorang yang diungkapkan dalam tindakan-tindakan luar). Pemahaman ungkapan-ungkapan yang bersifat subjektif inilah yang membuat kita mengetahui fakta itu, berupa suatu tindakan kebaktian, bukan sekedar gerakan saja (misal dalam doa, sholat, tari dan lain-lain). Pertama; (proyek Husserl) landasan berfikir semua hal adalah kehadiran, seperti kata Husserl, “Prinsip segala prinsip adalah hanya intuisi langsung (dengan tidak menggunakan perantara apapun)”. Ini berarti apapun yang kita lihat, pandang dan persepsi awalnya adalah apa yang kita alami. Penglihatan dan pemahaman kita selanjutnya menggunakan pemahaman awal (langsung itu). Berarti ini Subjektivitas. Jawabnya positif, Ya. Inilah yang kita miliki awal. Dengan reduksi-reduksi nanti kita bisa hilangkan subjektivitas itu. Pemahaman suatu fenomena religius meliputi empati terhadap pengalaman, emosi, ide-ide dari orang lain dan seterusnya. Empati memperlihatkan pemahaman terhadap tingkah laku orang lain berdasarkan pengalaman dan tingkah laku kita sendiri. Kalau orang tidak pernah mengalami tindakan religius atau ritual tertentu, ia tidak akan pernah memahami makna tindakan religius ini dari dalam. Untuk mengetahui suatu tindakan X adalah kebaktian, bahwa Y adalah tindakan kurban dan Z adalah tindakan Doa. Fakta ini mengandaikan perlunya Objektivitas. Dengan kata lain fenomena religius itu adalah objektif, meski fakta sebenarnya berdasarkan pada subjektivitas. Disinilah kita perlu konsep kedua kata Husserl, Epoche (menaruh dalam kurung atau melakukan reduksi-reduksi. Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa tindakan X adalah tarian ritual. Ini kita melihat tidak hanya gerakannya, namun kita menangkap itu kepenuh-artian-nya. Untuk dapat menangkap itu kita perlu mengetahui seluk beluk, bahasa, dan penjelasan langsung dari penarinya (disinilah perlunya sejarah, antropologi dan sosiologi agama, sebagai pembantu fenomenologi agama. Membiarkan fenomena itu sendiri yang berbicara). Dengan ini kita mengetahui ciri religiositasnya. Juga dengan membandingkan dari pengamat-pengamat lainnya. Dengan ini maka kita sampai ke metodologi ilmiah. 2) Mengadakan penggolongan dan klasifikasi/taksonomi. Kesemua itu dilakukan dengan menyusun Tipologi[20], Struktur dan Morfologi. 3) Memisah-misahkan untuk mencari kejelasan, membuang yang tidak bersangkutan dan lain-lain. Ada proses abstraksi disini, dan pembuatan type-ideal. Ini dilakukan dengan apa yang dalam proyek Husser ketiga disebut variasi eidentis (dengan pemahaman[21], empati dan wawasan imajinatif). 4) Mencari hubungan korelasi antara satu sebab dengan sebab yang lain. 5) Pembuatan hipotesa/ramalan. Jika ini maka itu dan lain-lain. (Misal: Pengaturan penguburan menunjuk pada kepercayaan akan kebangkitan badan, tarian ritual yang mengungkapkan ketakutan akan daya adi kodrati dan lain-lain). 6) Verifikasi dan Falsifikasi. 7) “Hukum” [22](Misal: Suatu suku bangsa mempertahankan upacara-upacara pemulihan karena takut pada kemarahan para dewa). Dari keterangan diatas (yang memang hanya sebagai pengantar) maka kita bisa mendapatkan satu hal yang cukup penting; yaitu perspektif lain dari Realisme/empirisme dan Idealisme/rasionalisme. Dengan fenomenologi ini (sekalipun mengarah kerelativisme) kita bisa mengatakan; bahwa apapun itu berproses, tidak selesai dan definitif. Tidak mungkin mengetahui sesuatu tanpa melihat “sejarahnya”[23]. Dan perspektif kita akan ilmu pengetahuan yang bebas nilai (free-value) jelas tidak memiliki dasar, dan optimisme yang berlebihan kepada ilmu-pengetahuan harus diturunkan, tanpa menjadi penentangnya. Apakah ini berbahanya bagi Agama sebagai institusi yang mengklaim kebenaran absolut?. Jawabnya tergantung: “Apakah kita yakin bisa memperoleh hal yang pasti, benar dan absolut”, atau “kita yakin tidak mungkin memperolehnya”, atau malah “kita yakin memang Allah tidak menyuruh kita mencari kebenaran absolut itu”. (ini semua perlu didiskusikan dan dipelajari lebih lanjut)[24]] Atau contoh lain menganalisa pengalaman “dimengerti”, kalau seorang itu mengerti apa yang kita maksud, maka ada beberapa unsure yang ada secara fenomena, misalnya; merasa puas, nyaman, ada isyarat mengerti dan lain-lain, lalu ini dicobakan kebebarapa subjek penelitain ternyata signifikan; maka point-point itu dipercaya sebagai fenomena “dimengerti”.[25] Metode intersubjektif Diperbandingkan antar pengamat seperti penjelasan diatas. Analisis Mimpi Sama dengan analisis mimpi Frued, hanya penafsirannya yang berbeda-beda. Apa yang disembunyikan dan lain-lain dapat dilihat dalam mimpi itu. menurut Boos, mimpi adalah bentuk lain dari mengada-dalam-dunia. Mimpi itu harus diterima utuh apa adanya [tidak seperti Frued yang diarikan simbolik] baik isi maupun maknanya. Kata Boss, bentuk keberadaan atau cara meng-ada seseorang yang terlukis didalam mimpinya sering merupakan salinan dari caranya meng-ada dalam kehidupan sadar. Pembuatan definisi operasional dan kuesioner untuk eksperimen Ini missal yang paling pentik adalah “Makna Hidup”. Bagaimana ini bisa diteliti secara eksperimental? Konsep-konsep Frankl itu dicoba dicarikan validasinya oleh murid-murinya. Secara rasional Crumbaugh dan Maholick mendefinisikan “maksud hidup” sebagai “signifikansi ontologism hidup” dari titik pandang individu yang mengalaminya. Kemudian secara operasional mereka mengukur (mengetes) maksud hidup itu dengan alat test yang mereka susun berdasarkan kerangka acuan logoterapi (terapi aliran Frankl), dan tiga test lain atas kuisioner frankl, The Allport-Vernon-Lindzey Scale of Value (A-V-L), dan The Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI) dan seterusnya. http://humanisme-kebenaran.blogspot.com/2010/03/4-filsafat-psikologi-terapi-psikologi.html

Teori Kepribadian dan Psikopatologi

Biswanger-Boss Seperti para Eksistensial lainnya, ia menolak kalau kepribadian dianngap sebagai sekumpulan sifat yang tetap pada manusia. Mereka mengatakan bahwa kepribadian itu dinamis. Sebab mereka percaya ada-dalam-dunia ala Heidegger, dimana manusia dan alam sama-sama berkembang. Manusia menghayati alamnya, dengan penghayatan itu maka diri manusia berkembang dan berkembang pula dunia yang dia alami. Ada-dalam-dunia, oleh Biswanger-Boss dibedakan menjadi 3 yaitu; a) ada-dalam-alam (being-in-nature), b) ada-bersama-orang lain (being-with-other) dan ada-bagi-diri-sendiri (being-for-oneself). Ini adalah hal umum yang dialami oleh manusia. Ada-dalam-alam (bagaimana menghayati alamnya, laut, darat dan seterusnya). Ada-bersama-orang lain (kesosialan manusia, apa ia bisa berhubungan dengan orang lain atau tidak). Apakah dengan berhubungan social ia menjadi altruisme, egoisme atau menjadi dirinya sendiri. Yaitu ada-bagi-diri-sendiri. Disini diandaikan dengan kedua hubungan diatas, manusia tetap menjadi subjek, mampu melakukan refleksi untuk perbaikan-perbaikan, sehingga ia mampu menjadi person. Unik, dengan pilihannya dengan rasa tanggung-jawabnya. Dalam hidupnya manusia mengalami “perkembangan keberadaan”, dimana dengan segalanya (ketiga tahapan diatas), manusia mampu mengisi segala kemungkinan-kemungkinannya. Manusia yang hidup dengan sungguh-sungguh, ia akan berusaha untuk merealisasikan segala kemungkinannya, segala kemungkinan bawaannya. Dan manusia dengan kebebasannya mampu untuk merealisasikan itu secara potensial. Individu yang menolak merealisasikan kemungkinan-kemungkinannya sendiri, berarti menghindari tanggung-jawab. Dan penghindaran ini berarti manusia hidup tidak otentik. Penolakan atau kegagalan individu dalam menjalankan mandatnya untuk merealisasikan kemungkinan-kemungkinan dari keberadaannya akan melahirkan “dosa-Eksistensial” (Extential quilt) sebagai hukuman atas diri individu.[11] Dalam merealisasikan dirinya, manusia punya keterbatasan sebab ia adalah mahkluk yang terlempar (throwness) meminjam dari Heidegger. Manusia waktu lahir dengan segala keterbatasan yang melingkupinya. Tubuhnya, lingkungannya, genetikanya, orang-tuanya dan seterusnya. Demikian juga dengan pilihannya karena keterbatasannya tadi maka ada “opportunity-cost” (biaya kesempatan, meminjam istilah ekonomi, [MA]) artinya karena kekurangan yang manusia punya, bila ia memilih satu pilihan untuk memperoleh realisasi potensi “X”, maka ia menghilangkan kemungkinan realisasi potensi “Y” dan seterusnya. Walau tidak mungkin untuk “sempurna”, tetapi “optimalisasi dengan batasan”[12] (bahasa ekonomi lagi, [MA]) harus diupayakan. Kalau tidak manusia tidak otentik dan bisa malah psikopatologi. Rollo May Ia menyoroti beberapa masalah yaitu kekosongan; katanya, kekosongan adalah kondisi individu yang tidak mengetahui lagi apa yang diinginkannya dan tak lagi memiliki kekuasaan terhadap apa yang terjadi dan dialaminya. Ini banyak dialami dalam masyarakat modern..mereka kanya bisa merespon, tetapi tidak bisa memilih respon apa yang paling baik buat kediriannya. Contohnya adalah manusia giroskop (takut mati, dengan segala kekuasaan yang dimiliki), apatis, pasivitas dan lain-lain. Kesepian, ini dialami masyarakat modern karena rutinitas, robotisasi dan alienasi. Mereka takut ditolak oleh sesama, dan memiliki hasrat untuk diterima orang lain. Mereka berkegiatan bersama, pesta dan lain-lain, ini semua bukan didasari oleh kehendak untuk menciptakan kebersamaan dan saling membagi pengalaman dalam kehangatan manusiawi, melainkan semata-mata didasari oleh ketakutan berada sendirian atau ketakutan diisolasi oleh orang lain. Kesendirian ditakuti bukan karena kesendiriannya, melainkan karena dengan itu maka individu itu akan kehilangan diri dan keberadaannya.[13] Kecemasan juga merupakan hal lain dalam manusia modern. Mereka tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperankan dan dimainkan, asas-asas apa yang harus diikuti. Semuanya sudah otomatisasi, globalisasi, efisinsi dan seterusnya.[14] Tetapi manusia juga memiliki kesadaran diri yaitu kapasitas yang memungkinkan manusia mampu mengamati dirinya sendiri maupun membedakan dirinya dari dunia (orang lain), serta kapasitas yang memungkinkan orang mampu menempatkan dirinya didalam waktu (masa kini, lampau dan datang). Viktor Frankl[15] Ia mengatakan, dengan menggunakan kebijaksanaan dari Nietzsche; “Dia yang mengetahui untuk apa dia hidup, akan bisa mengatasi hampir semua yang terjadi atas dirinya”. Frankl berkeyakinan bahwa kita bebas, dan salah satu kebebasannya adalah bebas berkeinginan. Hanya pasien skizopren yang dihinggapi delusi bahwa keinginan-keinginan dirinya dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan luar, juga para filosof determinstik. Manusia tidak bebas dari kondisinya, tetapi manusia itu bebas untuk mensikapi kondisi tersebut. Disamping itu, menurut frankl; manusia adalah mahkluk yang motivasi utamanya dalam hidup adalah “mencari makna”. Ia mengatakan bahwa kesenangan, kebahagiaan bukanlah tujuan, bila itu yang dituju, menjadi tujuan, justru itu tak akan tercapai. Kesenangan, kebahagiaan adalah efek samping dari hikmat, menjalankan sesuatu untuk kehidupan. Sukses juga bukan tujuan, tetapi efek samping dari dedikasi dam pengorbanan untuk peradaban, manusia lain dan seterusnya. Penciptaan makna adalah tanggung-jawab yang harus dipikul oleh manusia. Roland Liang Dia mengatakan bahwa apabila kita secara simpatik ikut merasakan dunia para pasien skizopren, maka kita akan menemukan bahwa emosi-emosi dan tingkah-laku se pasien adalah respon yang alamiah terhadap situasi-situasi yang secara Eksistensial membahayakan dirinya. Liang mengkritik lingkungan rumah sakit yang tidak memberikan upaya pasien untuk reintegrasi diri… mereka memperlakukan itu sebagai “salah”, dengan perlakuan-perlakuan orang-orang yang “salah”. Bukan sebagai pasien yang merespon kondisi yang membuatnya seperti itu. http://humanisme-kebenaran.blogspot.com/2010/03/4-filsafat-psikologi-terapi-psikologi.html

Tema-tema Eksistensial

Kebersamaan, Cinta dan Pertentangan Kebersamaan atau manusia sebagai makhluk social (homo socius) adalah hal penting dalam Eksistensialis. Manusia social adalah bukan suatu kebetulan melainkan merupakan sesuatu yang sudah seharusnya ada, sebab kebersamaan adalah ciri yang essensial dari keberadaan manusia. Sein-ist-mit-sein, keberadaan manusia adalah keberadaan bersama, kata Heidegger. Kebersamaan ini ada artinya bila dijalani dengan kerjasama, saling menunjang. Dan puncak kebersamaan itu adalah kebersamaan yang dijalani dalam hubungan cinta yang sungguh-sungguh sejati dengan corak Aku-Kamu. Tetapi tidak semua Eksistensialis percaya dan optimis dengan kebersamaan manusia. Sartre salah satu Eksistensialis yang tak mendukung itu. Ia mengatakan setiap hubungan antar individu, pasti berupaya mengobjekkan yang lain, termasuk dalam cinta. Puncak pesimisme hubungan social, diungkapkan dengan kata-kata; “Orang lain itu Neraka”. Kesepian dan Keterasingan Kesepian adalah kemungkinan yang dihadapi oleh setiap manusia. Dalam kesepian, individu mengalami keterputusan tidak hanya dengan sesama, juga dengan alamnya, Tuhannya. Ia hanya tinggal dirinya sendiri. Karenanya dalam kesepian manusia tidak menemukan kepuasan dalam berhubungan dengan dirinya sendiri.[9] Orang yang kesepian itu menemukan dirinya tidak berdaya, tidak berharga, dan kehilangan gairah hidup. Manusia pada zaman modern ini akan makin banyak mendapati dirinya kesepian dan keterasingan baik karena pekerjaan, cepatnya arus informasi dan lain-lain. Kematian Ini adalah peristiwa yang harus, mau atau tidak manusia akan mengalaminya. Pada sebagian Eksistensialis, melihat kematian dengan pesimistis dan absurditas seperti Albert Camus dan Sartre. Mereka mengatakan kematian adalah kembalinya manusia dari ketiadaan menjadi tiada lagi. Tetapi ada Absurditas dan Nihilis yang optimis yaitu Nietzsche. Sementara lainnya menganggap kematian dengan optimistis. Heidegger mengatakan; penerimaan atas kematian bisa membantu manusia untuk hidup lebih otentik dan bahagia. Demikian juga dengan, Jasper, Simmel dan Frankl. http://humanisme-kebenaran.blogspot.com/2010/03/4-filsafat-psikologi-terapi-psikologi.html

Konsep dasar dan tema Psikologi Eksistensial

1. Ada dan nonada Ada ialah ukuran bagi keberadaan manusia, suatu dimensi yang mengacu kepada kesubjekan (subjectness) manusia. Dengan meng-ada, manusia hadir dan menampakkan diri, mengalami dirinya sebagai subjek yang sadar, aktif dan berproses. Sedangkan nonada adalah ukuran bagi ketiadaan manusia, suatu dimensi yang mengacu kepada keobjekan (objectness) dari manusia. Dalam nonada, manusia melakukan negasi atas keberadaannya, dan mengalami dirinya sebagai objek[5]. (Sartre, 1976) Ernest Keen (1970) menegaskan bahwa, bagaimanapun, ada dan nonada adalah dua dimensi yang saling bergantung dalam memberi nuansa yang tegas pada keberadaan manusia, ibarat gambar dengan latar belakangnya yang membentuk sebuah lukisan. Sebuah lukisan menjadi jelas dan memiliki nuansa karena gambar (figure) yang terdapat di dalamnya ditopang oleh latar belakang (ground). Demikian pula dengan keberadaan manusia. Keberadaan manusia memiliki nuansa yang tegas karena pada dirinya terangkum ada dan nonada sekaligus. Artinya, manusia mengalami rasa ada (sense of being) atau menghayati keberadaan karena ia merangkum ada dan nonada. 2. Ada-dalam-dunla Konsep ada-dalam-dunia (bahasa lnggris: being-in-the-world, bahasa Jerman: in-der- Welt -sein, bahasa Prancis: l,etre-dans-lemonde) diperkenalkan oleh Martin Heidegger artinya manusia hidup atau mengungkapkan keberadaannya dengan meng-ada di dalam dunia. Istilah ada-dalam yang digunakan oleh Heidegger memiliki arti yang dinamis, yakni mengacu kepada hadirnya subjek yang selalu berproses. Demikian pula, dunia yang dikemukakan oleh Heidegger itu harus dimengerti sebagai hal yang dinamis, yakni suatu dunia yang terbuka tempat keseluruhan keberadaan manusia terdapat, bisa hadir dan menampakkan diri, dan bukan dunia yang tertutup atau semata-mata suatu dunia fisis-geografis yang terbatas dan membatasi manusia. Heidegger sendiri menekankan bahwa ada-dalam-dunia adalah Seinkonnen, yang berarti manusia mampu berada. Jadi, ada-dalam-dunia itu tidak menunjuk kepada fakta beradanya manusia di dalam dunia seperti beras ada di dalam karung atau baju ada di dalam lemari, melainkan menunjuk kepada realitas dasar bahwa manusia hidup atau mengungkapkan keberadaannya di dalam dunia sambil merancang, mengolah, atau membangun dunianya itu. Patut dicatat pula bahwa manusia dan dunia, sebagaimana telah disinggung di muka, adalah suatu totalitas yang menjalin relasi dialektis (penggunaan tanda hubung dalam istilah ada-dalam-dunia itu pun sudah mengisyaratkan pandangan total dan dialektis dari Heidegger mengenai manusia-dunia). Totalitas dan dialektika manusia-dunia itu mengandung implikasi bahwa keberadaan dan perkembangan manusia tidak terlepas dari keberadaan dan perkembangan dunia. Dalam kenyataannya, manusia akan berkembang jika dia mengembangkan (membangun) dunianya. Medard Boss, salah seorang pelopor penerapan ontologi Heidegger dalam praktek psikoterapi, menyuarakan kembali pandangan total dan dialektis manusia-dunia dari Heidegger itu melalui pernyataannya,... manusia tidak meng-ada terpisah dari dunia, dan dunia tidak meng-ada terpisah dari manusia. Jika.yang satu (manusia) berkembang, maka yang lain pun (dunia) aka berkermbang (Boss 1963) 3. RelasI Aku-Kamu Martin Buber (1970) mengembangkan konsep relasi Aku-Kamu (the I-Thou relationship) untuk menggambarkan relasi antar pribadi yang sungguh-sungguh atau sejati, yang kontras dengan satu bentuk relasi yang disebut I-it relationship. Di dalam relasi Aku-Kamu, individu sadar dan menghargai partner relasinya sebagai subjek seperti dirinya, subjek dengan dunianya sendiri, subjek yang selalu berproses, dan subjek yang memiliki perasaan, pikiran, dan keinginannya sendiri. Sikap individu semacam ini memungkinkan individu tersebut memiliki kesediaan untuk memberikan empati kepada partner relasinya, yang pada gilirannya menjadikan individu sanggup mencoba membayangkan apa dan bagaimana dunia yang nampak dan perspektif subjektif partner relasinya itu. . Berbeda dengan relasi Aku-kamu, dalam relasi yang disebut I-it relationship individu melihat partner relasinya bukan sebagai subjek, melainkan sebagai objek[6]; suatu objek yang bisa diabaikan maupun digunakan untuk kepentingan pribadi si individu. Jadi, dalam relasi semacam ini tidak terdapat kesediaan untuk memberikan empati kepada partner relasi dan, karenanya, tidak ada kesanggupan pada individu untuk memahami dunia partner relasinya. Jika I-it relationship ini diberlakukan dalam psikoterapi, maka berarti terapis memperlakukan pasien sebagai objek penerima treatment dan sebagai objek yang perbaikan atau kesembuhannya merupakan fungsi dan keefektifan terapis dengan treatment yang diberikannya itu. Relasi terapeutik yang demikian ditentang oleh para terapis eksistensial. (May, 1969) 4. Intensionalitas Intensionalitas adalah konsep eksistensialisme yang mirip dengan prinsip determinisme psikis dari psikoanalisis, yang mengemukakan bahwa kejadian-kejadian mental tidak muncul secara kebetulan. Dalam arah yang sam tetapi dengan penekanan yang berbeda, konsep intensionatitas yang diambil para eksistensialis dari Brentano dan Hussert mengemukakan bahwa kesadaran manusia selatu memiliki maksud atau terarah kepada sesuatu. Rollo May (1969), dengan konsep intensionatitas, menegaskan bahwa kesadaran ditentukan oleh fakta bahwa kesadaran itu selalu mengarah kepada sesuatu, khususnya objek. Jadi, konsep intensionalitas ini merupakan konsep yang penting yang menjembatani jurang antara subjek dan objek yang ditimbulkan oteh dualisme Descartes. Agaknya Heidegger pun mengembangkan konsep ada-dalam-dunia berlandaskan konsep intensionalitas. Sementara itu Sartre, dalam usaha menunjukkan artifisialitas dualisme Descartes, menegaskan bahwa meja yang tertihat olehnya bukanlah meja yang ada dalam kepalanya (dalam kesadaran Sartre), melainkan meja yang ada di luar sana, di dalam ruang dunia nyata (Sartre, 1976). Para eksistensialis juga menggunakan konsep intensionalitas untuk menerangkan persepsi. Mereka menekankan bahwa persepsi itu menuntut adanya kesediaan individu untuk melibatkan diri ke dalam aspek realitas tertentu yang (akan) dipersepsinya. Dengan perkataan lain, tindakan mempersepsi menuntut adanya intensi dari individu terhadap sesuatu yang akan dipersepsinya. Sebaliknya, jika individu tidak memiliki intensi (tidak memiliki maksud atau niat) kepada sesuatu, maka dia tidak akan mempersepsi sesuatu itu[7]. Dari. sini timbul keyakinan pada para Eksistensialis bahwa apa dan bagáimana persepsi individu terhadap suatu hal sedikit banyak dipengaruhi oleh intensinya terhadap hal tersebat. Keyakinan para eksistensialis ini didukung oleh sejumlah penelitian yang menunjukkan bahwa persepsi dipengaruhi oleh harapan-harapan, anggapan-anggapan, dan kecenderungan merespons (set) yang ada pada diri individu (Allport, 1955). 5. Keberadaan otentik dan keberadaan tidak otentitik Konsep keberadaan otentik (authentic existence) dan keberadaan tidak otentik (inauthentic existence) juga merupakan konsep yang fundamental bagi para eksistensialis dan para ahli psikologi eksistensial. Keberadaan yang tidak otentik adalah keberadaan individu yang mengukuhkan dirinya dengan cara atau untuk tujuan menghindarkan diri dari wujud-wujud nonada, yakni keniscayaan-keniscayaan hidup yang terdiri atas kematian, keharusan memilih dan memikul tanggung jawab, isolasi dan ketidakbermaknaan. Ia tidak berani untuk mengambil hidup dengan segala keterbatasannya, penderitaan, kematian, tanggung jawab dan lain-lain. Ia mengukuhkan dirinya bukan untuk dirinya. Ia mencari sukses lewat status, dan sukses menurutnya adalah adanya tepuk tangan penonton. Ia selalu melihat penopangan dari orang lain sebagai bagian pengukuhan dirinya (self affirmation). Keberadaan ini tidak utuh dan rapuh. Sebaliknya, dalam keberadaan yang otentik, individu sanggup mengukuhkan dirinya tanpa mengingkari keniscayaan-keniscayaan hidup (tidak mengingkari bahwa dirinya akan mati, bahwa dirinya harus membuat pilihan-pilihan atau putusan-putusan yang vital bagi hidupnya, bahwa dirinya bisa mengalami isolasi dari sesama dan mengalami ketidakbermaknaan), juga tanpa mengikat orang lain dan tidak menggantungkan diri pada orang lain. Keberadaan otentik merupakan gambaran ideal bagi para Eksistensialis dan terapi Eksistensial. http://humanisme-kebenaran.blogspot.com/2010/03/4-filsafat-psikologi-terapi-psikologi.html

Beberapa kritik yang dilontarkan, karena prinsip yang dianut ‘psokologi Eksistensial’ khususnya oleh kaum Behaviorisme (Watson dan Skinner)

Pertama, psikologi eksistensial sama sekali menolak hukum sebab-akibat yang berasal dan ilmu alam yang digunakan oleh beberapa pendekatan psikologi. Menurut para tokoh psikologi eksistensial, hukum sebab-akibat itu tidak cocok untuk digunakan dalam psikologi, sebab manusia bukan benda atau objek yang pasif, melainkan subjek yang dinamis. Oleh karena itu, menurut mereka, yang cocok untuk digunakan di dalam psikologi adalah konsep motivasi, suatu konsep mengenai sumber dan proses kemunculan tingkah laku yang dimengerti dalam kaitan sebab-akibat, tetapi melihat partisipasi aktif manusia sebagai penyebab kemunculan tingkah laku itu. Perbedaan antara hukum sebab-akibat dengan konsep motivasi itu bisa diterangkan melalui contoh jendela yang terbuka oleh embusan angin dan jendela yang terbuka oleh manusia. Baik angin maupun manusia sama-sama menimbulkan akibat terhadap jendela, yakni jendela itu menjadi terbuka. Sebabnya adalah, baik angin maupun manusia sama memiliki daya dorong. Bagaimanapun, berbeda dengan angin, manusia membuka jendela tidak semata-mata karena memiliki daya dorong, tetapi juga karena memiliki tujuan tertentu yang hendak dicapainya, umpamanya untuk memperoleh angin segar atau untuk menerangi ruangan. Dan dalam tindakannya mendorong jendela itu, manusia disertai proses-proses kognitifnya yang memungkinkan dia bisa menentukan di mana tangan harus diletakkan dan berapa besar tenaga harus dikeluarkan. Prinsip yang petama ini berkaitan dengan prinsip yang kedua. Kedua, psikologi eksistensial berprinsip bahwa pengalaman atau tingkah laku manusia adalah hasil dari manusia itu sendiri sebagai suatu totatitas yang berkehendak, bukan semata-mata sebagai hasil dari stimulus internal (naluri-naluri atau dorongan-dorongan) dan atau stimulus eksternal (lingkungan). Menurut para ahli psikologi eksistensial, usaha memahami manusia dengan mengandaikan adanya kekuatan-kekuatan deterministik dan memandang kekuatan-kekuatan deterministik itu sebagai penyebab kemunculan tingkah laku adalah memutarbalikkan dan memecah belah keberadaan manusia serta mengingkari otonomi dan kebebasan manusia. Pendek kata, uraian mengenai tingkah laku dan keberadaan manusia dengan menggunakan istilah-istilah naluri, dorongan, energi psikis, maupun energi fisik tidak berlaku dalam psikologi eksistensial. Sebaliknya, dengan menggunakan konsep-konsep dasar eksistensialisme dan metode fenomenologi, para ahli psikologi eksistensial mempelajari manusia melalui pengamatan langsung atas pengalaman atau tingkah laku manusia sebagaimana pengalaman atau tingkah laku itu muncul dalam kesegeraannya atau tampil sebagai fenomena, dan melukiskanya setepat mungkin. Dan deskripsi atau pelukisan fenomenologis bukanah penguraian sebab-akibat. (Van Kaam. 1966) Ketiga, psikologi eksistensial mencurigai teori, sebab teori —banyak di antaranya — terlalu mempersoalkan hal-hal yang tak bisa diamati dan menganggap hal-hal tersebut sebagai penyebab kemunculan hal-hal yang bisa diamati. Yang dimaksud dengan hal-hal yang tak bisa diamati itu adalah struktur-struktur hipotetis yang dianggap ada pada manusia seperti ego, drive, dan semacamnya, sedangkan yang dimaksud dengan hal-hal yang bisa diamati adalah fenomena, dalam hal ini fenomena tingkah laku. Menurut para ahli psikologi eksistensial, fenomena itu bukan muka atau kutipan dari sesuatu yang lainnya, melainkan sesuatu yang hadir dalam kesegeraannya (tanpa diantarai). Para ahli psikologi eksistensial menekankan bahwa dalam mempelajani tingkah laku manusia, kita harus bebas dari praduga-praduga ilmiah yang biasa ditimbulkan oleh teori-teori, dan harus mengamati apa yang bisa diamati (fenomena tingkah laku), serta menjabarkan atau melukiskan fenomena yang diselidiki dalam penampilannya yang utuh dan dalam susunannya yang asli (Binswanger, 1963). Pada saat yang sama, para ahli psikologi eksistensial menentang pendekatan psikologi yang mengabaikan pengalaman-pengalaman-dalam (inner experiences) manusia dan yang melulu mempersoalkan tingkah laku yang nampak (overt behavior). Dalam pandangan psikologi eksistensial, pengalaman-pengalaman-dalam (ketakutan, kecemasan, pengharapan, rasa bersalah) itu sama vitalnya dengan tingkah laku-tingkah laku yang nampak. Akhirnya, psikologi eksistensial menentang dengan gigih pendekatan psikologi yang memandang manusia seperti memandang batu atau pohon, dan yang memperlakukan manusia sebagai objek yang bisa dimanipulasi seperti memperlakukan hewan-hewan percobaan di dalam laboratonium. Menurut psikologi Eksistensial, pandangan dan perlakuan semacam itu tidak hanya merusak keutuhan manusia yang menghambat para ahli psikologi untuk memahami manusia secara penuh di dalam keberadaannya. tetapi juga mengakibatkan dehumanisasi manusia. Psikologi eksistensial masuk ke dalam arena kritik-kritik sosial dengan melancarkan serangan terhadap pengasingan dan fragmentasi manusia oleh teknologi, birokrasi, dan mekanisasi. Menurut para ahli psikologi eksistensial, apabila manusia dipandang sebagai suatu yang bisa diatur, dikendalikan, dibentuk dan dieksploitasi, maka manusia akan terhambat dalam mencapai kehidupan yang sungguh-sungguh dan manusiawi. http://humanisme-kebenaran.blogspot.com/2010/03/4-filsafat-psikologi-terapi-psikologi.html

PSIKOLOGI & TERAPI ‘EKSISTENSIAL’

Eksistensial adalah suatu aliran filsafat yang kebanyakan tokohnya enggan untuk menggunakan nama itu. para toko Eksistensialisme lebih senang menyebut nama-nama lain, dan Eksistensialisme hanya sebagai suatu pendekatan filosofis terhadap realitas, khususnya realitas manusia. Sikap mereka anti system. Kata Kierkegaard; untuk memahami manusia, kita harus mengamatinya dalam kenyataan sehari-hari, mengamati manusia sebagaimana dia tampak dan menampakkan diri sebagai fenomena, dan bukan dengan mereduksinya kedalam abstraksi-abstraksi. Pandangan ini menjadi pandangan para Eksistensialis dan mendapatkan nama serta pendasaran filosofi pendekatan tersebut sebagai “fenomenologi” oleh Edmund Husserl. Ciri lain dari Eksistensialisme adalah; para Eksistensial memandang subjek dan objek atau manusia dan dunia sebagai suatu kesatuan yang menjalin relasi dialekstik, suatu pandangan yang jelas bertentangan dengan dualisme Descartes yang memisahkan dan mempertentangkan subjek dan objek, jiwa dan badan, atau manusia dan dunia. Sekalipun para Eksistensial itu banyak dan beraneka dalam pandangannya, tetapi secara umum mereka memiliki focus pandangan yang dikatakan sebagai pandangan Eksistensialisme yaitu sama-sama memusatkan perhatian pada kondisi-kondisi dasar manusia dan memandang manusia sebagai pribadi (person). http://humanisme-kebenaran.blogspot.com/2010/03/4-filsafat-psikologi-terapi-psikologi.html

faktor yang menyebabkan manusia menjadi antisosial

Ada beberapa faktor yang menyebabkan manusia menjadi antisosial adalah adalah : 1. Pola asuh keluarga. Orang tua yang tidak menyerapkan aturan-aturan di dalam keluarga sehingga membuat anak menjadi tidak terorganisasi. Orang tua yang terlalu menyanyangi anaknya/membela anaknya walaupun salah/melindungi anaknya dari kesalahan sehingga membuat anaknya menjadi manja dan tidak dapat menerapkan hukum benar atau salah. dll 2. Figur Orang tua. Orang tua yang tidak mempunyai model yang baik, orang tua yang mempunyai perilaku antisosial menyebabkan anak-anaknya mengikuti model dari orang tuanya. Kehilangan orang tua atau tidak adanya figur orang tua juga menyebabkan anaknya tidak dapat menemukan model yang akan dicontohinya sehingga membuat anak mencontohi orang lain terutama orang yang kurang bijaksana. 3. Lingkungan. Salah satu perkembangan dan kepribadian manusia ditentukan oleh faktor lingkungan. 4. Biologis/Genetika. Ahli ilmu pengetahuan menemukan bahwa ada kesalahan/kerusakan otak pada sang anak. http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2010/09/01/terapi-psikologi-kenakalan-anakremaja/

Air Seni mana yang baik untuk terapi

Berdasarkan dari pengalaman-pengalaman yang ada, air seni yang paling bagus untuk pengobatan adalah air seni sendiri. Sedang air seni kita yang paling baik adalah air seni dimana ia diproduksi saat tubuh istirahat dan bukan dalam keadaan terforsir. Jadi bukan air seni setelah kita berolah raga, kerja keras, dan seterusnya. Air seni kwalitas demikian yaitu yang kita keluarkan saat bangun tidur dan sangat bagus untuk keperluan diminum. Walau demikian bukan berarti air seni pada siang hari tidak dapat dipakai untuk kebutuhan minum. Hal diatas hanyalah masalah preoritas saja. Selain itu ada baiknya penampungan/pengambilan air seni dilakukan di bagian tengahnya. Artinya saat awal keluar dan akhir dibuang/tidak ditampung. Perlu diperhatikan, untuk keperluan diminum, air seni yang ada jangan dibiarkan lebih dari 5 menit. Jadi setelah keluar harus cepat kita minum. Bila kita bermaksud untuk menyimpannya, maka harus disimpan dalam lemari es dengan keadaan yang tertutup rapat. Penyempanan tidak boleh lebih dari satu hari. Sedangkan untuk keperluan lain (bukan untuk diminum), maka pengambilan air seni bisa lebih fleksibel (misalnya sisa dari air seni yang diminum). Dosis penggunaan Tass (Terapi air Seni Sendiri) Pada dasarnya tidak ada over dosis dalam penggunaan Tass. Justru makin banyak kita minum urine (misalnya), makin tinggi daya penyembuhannya. Untuk penyakit-penyakit tertentu seperti hepatitis kronis, kanker dan sebagainya, memerlukan beberapa gelas untuk diminum setiap harinya. Ada pedoman mudah untuk memperkirakan dosis penggunaan Tass dengan semboyan sebagai berikut; Satu gelas/cangkir per hari, membuat sehat dan ceria. Tiga gelas per hari, penyakit kita akan pergi Lima gelas per hari, kanker kita akan pergi. http://www.naturindonesia.com/metode-penyembuhan/terapi-air-seni/cara-pengobatan-tass.html

Terapi Air Putih Untuk Menyembuhkan Berbagai Penyakit

Banyak manfaat air putih. Terapi air putih sembuhkan penyakit. Air sangatlah bermanfaat bagi kelangsungan hidup setiap manusia, keberadaannya sangat dibutuhkan tubuh. Air memberi kontribusi lebih dari 2/3 berat tubuh manusia. Tanpa air dalam beberapa hari, kemungkinan besar kita akan mati kehausan. Kekurangan air dapat menyebabkan dehidrasi pada tubuh kita, yang berakibat kepada kinerja tubuh dan otak. Manusia jadi cepat lupa, sukar menyelesaikan soal matematika sederhana, sulit berkonsentrasi. Dehidrasi juga menyebabkan anda lekas lelah. Dan semua adalah contoh nyata pentingnya air. Tidak hanya itu, menurut ilmu pengetahuan, 95% otak kita terbuat dari air, 82% darah dari air dan jantung 75%, paru – paru 86%, ginjal 83%. Bayangkan betapa pentingnya keberadaan air pada tubuh kita. Dikarenakan pentingnya air maka tidak heran jika muncul sebuah metode pengobatan bernama terapi air putih. Dimana air putih dijadikan obat untuk menyembuhkan sejumlah penyakit berat seperti jantung, kanker, diabetes, hipertensi dan lainnya. Cara menerapkan terapi air putih terbilang amat mudah dan tanpa efek samping (kecuali anda akan sering buang air kecil), anda cukup menghabiskan air sebanyak 1.5 liter setiap bangun tidur – sebelum makan atau lakukan aktifitas apapun termasuk gosok gigi – kemudian mandi dan tunggu selama 45 menit baru anda dapat makan dan minum kembali. Terapi air putih dapat menyembuhkan penyakit-penyakit berikut ini berserta lama waktu terapi: Tekanan darah tinggi,lama waktu terapi 30 hari Asam lambung,lama waktu terapi 10 hari Diabetes,lama waktu terapi 1 bulan Susah buang air besar,lama waktu terapi 10 hari Penyakit Kanker,lama waktu terapi 8 bulan TBC / Tuberculosis,lama waktu terapi 3 bulan Penyakit Jantung,lama waktu terapi 1 bulan http://myoxysuper2action.com/terapi-air-putih-untuk-menyembuhkan-berbagai-penyakit.html

PERTIMBANGAN TERAPI PADA GERIATRI (LANJUT USIA)

Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang terjadi (Boedi, 2006) Pemberian obat atau terapi untuk kaum lansia, memang banyak masalahnya, karena beberapa obat sering beinteraksi. Kondisi patologi pada golongan usia lanjut, cenderung membuat lansia mengkonsumsi lebih banyak obat dibandingkan dengan pasien yang lebih muda sehingga memiliki risiko lebih besar untuk mengalami efek samping dan interaksi obat yang merugikan (Anonim, 2004). Penyakit pada usia lanjut sering terjadi pada banyak organ sehingga pemberian obat sering terjadi polifarmasi. Polifarmasi berarti pemakaian banyak obat sekaligus pada seorang pasien, lebih dari yang dibutuhkan secara logis-rasional dihubungkan dengan diagnosis yang diperkirakan. Diantara demikian banyak obat yang ditelan pasti terjadi interaksi obat yang sebagian dapat bersifat serius dan sering menyebabkan hospitalisasi atau kematian. Kejadian ini lebih sering terjadi pada pasien yang sudah berusia lanjut yang biasanya menderita lebih dari satu penyakit. Penyakit utama yang menyerang lansia ialah hipertensi, gagal jantung dan infark serta gangguan ritme jantung, diabetes mellitus, gangguan fungsi ginjal dan hati. Selain itu, juga terjadi keadaan yang sering mengganggu lansia seperti gangguan fungsi kognitif, keseimbangan badan, penglihatan dan pendengaran. Semua keadaan ini menyebabkan lansia memperoleh pengobatan yang banyak jenisnya(Darmansjah, 1994). KONSEP DASAR PEMAKAIAN OBAT Ada tiga faktor yang menjadi acuan dasar dalam pembuatan atau peresepan obat · Diagnosis dan patofisiologi penyakit · Kondisi organ tubuh · Farmakologi klinik obat (Boedi, 2006) Setelah dokter mendiagnosis penyakit pasien, maka sebelum penentuan obat yang dibeikan perlu dipertimbangkan kondisi organ tubuh serta farmakologi dari obat yang akan diresepkan. Pada usia lanjut banyak hal-hal yang lainnya yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan obat, karena pada golongan lansia berbagai perubahan fisiologik pada organ dan sistema tubuh akan mempengaruhi tanggapan tubuh terhadap obat. Adapun prinsip umum penggunaan obat pada usia lanjut : 1. Berikan obat hanya yang betul-betul diperlukan artinya hanya bila ada indikasi yang tepat. Bila diperlukan efek plasebo berikan plasebo yang sesungguhnya 2. Pilihlah obat yang memberikan rasio manfaat yang paling menguntungkandan tidak berinteraksi dengan obat yang lain atau penyakit lainnya 3. Mulai pengobatan dengan dosis separuh lebih sedikit dari dosis yang biasa diberikan pada orang dewasa yang masih muda. 4. Sesuaikan dosis obat berdasarkan dosis klinik pasien, dan bila perlu dengan memonitor kadar plasma pasien. Dosis penuNjang yang tepat umumnya lebih rendah. 5. Berikan regimen dosis yang sederhana dan sediaan obat yang mudah ditelan untuk memelihara kepatuhan pasien 6. Periksa secara berkala semua obat yang dimakan pasien, dan hentikan obat yang tidak diperlukan lagi (Manjoer, 2004) FARMAKOKINETIK Pada usia lanjut perubahan terjadi pada saluran cerna yang diduga mengubah absorbsi obat, misalnya meningkatnya pH lambung, menurunnya aliran darah ke usus akibat penurunan curah jantung dan perubahan waktu pengosongan lambung dan gerak saluran cerna. Oleh karena itu, kecepatan dan tingkat absorbsi obat tidak berubah pada usia lanjut, kecuali pada beberapa obat seperti fenotain, barbiturat, dan prozasin (Bustami, 2001). Pada distribusi obat terdapat hubungan antara penyebaran obat dalam cairan tubuh dan ikatannya dengan protein plasma (biasanya dengan albumin, tetapi pada beberapa obat dengan protein lain seperti asam alfa 1 protein), dengan sel darah merah dan jaringan tubuh termasuk organ target. Pada usia lanjut terdapat penurunan yang berarti pada massa tubuh tanpa lemak dan cairan tubuh total, penambahan lemak tubuh dan penurunan albumin plasma. Penurunan albumin sedikit sekali terjadi pada lansia yang sehat dapat lebih menjadi berarti bila terjadi pada lansia yang sakit, bergizi buruk atau sangat lemah. Selain itu juga dapat menyebabkan meningkatnya fraksi obat bebas dan aktif pada beberapa obat dan kadang-kadang membuat efek obat lebih nyata tetapi eliminasi lebih cepat. Munculnya efek obat sangat ditentukan oleh kecapatan penyerapan dan cara penyebarannya. Durasi (lama berlangsungnya efek) lebih banyak dipengaruhi oleh kecepatan ekskresi obat terutama oleh penguraian di hati yang biasanya membuat obat menjadi lebih larut dalam air dan menjadi metabolit yang kurang aktif atau dengan ekskresi metabolitnya oleh ginjal. Sejumlah obat sangat mudah diekskresi oleh hati, antara lain melalui ambilan (uptake) oleh reseptor dihati dan melalui metabolisme sehingga bersihannya tergantung pada kecepatan pengiriman ke hati oleh darah. Pada usia lanjut, penurunan aliran darah ke hati dan juga kemungkinan pengurangan ekskresi obat yang tinggi terjadi pada labetolol, lidokain, dan propanolol. Efek usia pada ginjal berpengaruh besar pada ekskresi beberapa obat. Umumnya obat diekskresi melalui filtrasi glomerolus yang sederhana dan kecepatan ekskresinya berkaitan dengan kecepatan filtrasi glomerolus (oleh karena itu berhubungan juga dengan bersihan kreatinin). Misalnya digoksin dan antibiotik golongan aminoglikosida. Pada usia lanjut, fungsi ginjal berkurang, begitu juga dengan aliran darah ke ginjal sehingga kecepatan filtrasi glomerolus berkurang sekitar 30 % dibandingkan pada orang yang lebih muda. Akan tetapi, kisarannya cukup lebar dan banyak lansia yang fungsi glomerolusnya tetap normal. Fungsi tubulus juga memburuk akibat bertambahnya usia dan obat semacam penicilin dan litium, yang secara aktif disekresi oleh tubulus ginjal, mengalami penurunan faali glomerolus dan tubulus (Bustami, 2001). http://yosefw.wordpress.com/2009/03/20/pertimbangan-terapi-pada-geriatri-lanjut-usia/

Gangguan Kecemasan pada Lansia Tidak Mempan Diterapi

Jakarta, Terapi perilaku kognitif merupakan terapi andalan untuk mengobati gangguan kecemasan pada orang dewasa muda. Namun efek terapi tersebut hasilnya lebih rendah atau bahkan tidak mempan ketika diterapkan pada orang lanjut usia (lansia). Gangguan kecemasan termasuk gangguan panik, fobia, stres pasca trauma dan gangguan kecemasan, umumnya terjadi pada orang dewasa di atas usia 55 tahun. Dalam Journal of American Geriatrics Society dinyatakan bahwa 3-14 dari setiap 100 orang lansia memiliki gangguan kecemasan. "Asumsi yang ada selama ini adalah terapi untuk gangguan kecemasan dapat sama efektifnya pada berbagai usia," kata Rebecca Gould, seorang peneliti dari King College London seperti dilansir dari HealthNews, Rabu (8/2/2012). Tapi nyatanya menurut Dr Eric Lenze, seorang profesor di Washington University School of Medicine efek terapi hasilnya lebih rendah ketika diterapkan pada lansia. Terapi bicara yang disebut terapi perilaku kognitif digunakan untuk membantu orang dewasa untuk mengobati gangguan kecemasan sedikit lebih baik daripada pendekatan terapi lainnya. Namun nyatanya pada lansia, tidak seefektif jika diterapkan pada orang dewasa muda. Sementara studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa terapi perilaku kognitif bekerja dengan baik untuk orang dewasa muda dan setengah baya. Namun, sebelumnya belum ada banyak penelitian mengenai pengobatan gangguan kecemasan pada lansia. Terapi perilaku kognitif sering melibatkan pertemuan secara pribadi dengan terapis dengan tujuan akhir untuk menyelesaikan proses berpikir yang cacat yang menyebabkan gangguan tersebut. Rata-rata dalam studi, peserta penelitian melalui 12 sesi terapi. Dibandingkan dengan jika tidak menjalani terapi sama sekali, terapi perilaku kognitif memiliki efek sedang untuk membantu mengobati kecemasan. Dibandingkan dengan obat atau diskusi kelompok, terapi perilaku kognitif memiliki efek sedikit lebih baik. Tim peneliti mencatat perbaikan atas perlakuan lainnya cukup kecil. "Terapi mungkin bekerja lebih baik dibandingkan obat karena berusaha untuk memperbaiki penyebab kecemasan bukan gejalanya. Jika dapat mengatasi penyebab dari gejala kecemasan, misalnya dengan mengubah cara berpikir mengenai sesuatu atau menafsirkan suatu hal, maka dapat menghentikan kecemasan datang lagi di masa depan. Jika hanya mengatasi gejala kecemasan maka suatu saat kecemasan tersebut dapat muncul kembali. Tidak diketahui mengapa terapi tampaknya kurang efektif pada lansia, tetapi mungkin karena terapi bicara dapat memakan waktu lebih lama untuk lansia," kata Gould. Studi lebih lanjut masih diperlukan untuk menemukan terapi yang cukup efektif untuk lansia. Tim peneliti Gould telah merencanakan sebuah studi yang mengeksplorasi manfaat dari pemikiran berbasis terapi kognitif, yang mencakup terapi seperti meditasi. http://health.detik.com/read/2012/02/08/164837/1837638/763/gangguan-kecemasan-pada-lansia-tidak-mempan-diterapi

TERAPI JUS UNTUK MENURUNKAN TEKANAN DARAH TINGGI (HIPERTENSI)

Hipertensi atau tekanan darah tinggi termasuk penyakit yang tidak menunjukkan gejala atau tanda-tanda yang jelas sebelum adanya perubahan pada pembuluh darah di jantung, otak atau ginjal. Oleh karena itu banyak orang yang tidak menyadari kalau menderita hipertensi, mereka baru mengetahuinya ketika dokter mengukur tekanan darahnya saat cek kesehatan atau keluhan penyakit lain. Seseorang dikatakan menderita hipertensi apabila nilai tekanan darah sistoliknya di atas 140 mm Hg dan diastoliknya di atas 90 mm Hg. Penyakit ini menyerang satu dari sepuluh orang dewasa dalam hidupnya. Tekanan darah tinggi sering disebut juga dengan ‘silent killer” karena jarang menunjukkan tanda-tanda dan jika diderita dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan berbagai macam komplikasi. Secara extrem tekanan darah tinggi dapat merusak bagian dalam dari arteri yang kecil, kemungkinan dapat menyebabkan pembekuan darah. Jika hal ini terjadi maka dapat menyebabkan serangan jantung (jika terjadi pada jantung), kebutaan (jika terjadi pada retina mata), gagal ginjal (jika pembekuan darah terjadi di ginjal), dan stroke (jika pembekuan darah terjadi di otak). Stroke juga dapat terjadi karena pecahnya pembuluh darah akibat hipertensi sehingga mengakibatkan pendarahan di otak. Sekitar 90-95% hipertensi tidak diketahui penyebabnya secara pasti, keadaan tersebut disebut juga hipertensi esensial. Sedangkan sisanya yaitu sekitar 5-10% diketahui penyebabnya yang disebut juga hipertensi sekunder. Hipertensi sekunder antara lain disebabkan oleh penyakit parenkim ginjal, pembuluh darah ginjal, akibat pemakaian obat, kelainan endokrin, dan lain-lain. Ada beberapa faktor risiko yang dapat memperberat hipertensi, antara lain : stres, obesitas/kegemukan, makanan yang banyak mengandung garam, kolesterol tinggi, makanan yang diawetkan, daging kambing, buah durian, rokok, kopi, riwayat keluarga/genetik dan usia. Selain usia dan faktor genetik, faktor lainnya dapat dikendalikan atau dihindari dengan pengontrolan pola hidup sehat, seperti : diet rendah garam dan rendah lemak berhenti merokok dan minum alkohol menghindari stres dan berolahraga sesuai kebutuhan menurunkan berat badan bagi yang kegemukan Konsumsi makanan yang mengandung mineral kalium dan magnesium yang dapat membantu menurunkan tekanan darah Banyak penderita hipertensi yang bosan minum obat penurun tekanan darah karena menimbulkan ketergantungan, apabila tidak minum obat tensinya tetap tinggi. Selain itu faktor efek samping yang ditimbulkan pada obat yang harganya murah sedangkan obat yang mahal banyak penderita yang tidak sanggup lagi membelinya. Karena berbagai alasan tersebut, penderita hipertensi mencari cara pengobatan lain yang lebih ekonomis namun minim efek samping yaitu melalui pengobatan alamiah dengan menggunakan bahan-bahan alami seperti buah, sayuran dan herbal. Buah dan sayuran merupakan sumber vitamin, mineral, serat dan zat-zat berkhasiat lainnya yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan kesehatan tubuh. Selain untuk meningkatkan kesehatan, buah dan sayuran juga banyak dimanfaatkan untuk terapi pengobatan. Kandungan mineral, vitamin, karotenoid, dan komponen lainnya yang terdapat pada buah dan sayuran diantaranya berkhasiat sebagai antioksidan untuk mencegah kanker, mengatasi gangguan pencernaan, menurunkan kolesterol tinggi, dan tekanan darah tinggi. Beberapa jenis buah-buahan dan sayuran yang berkhasiat menurunkan tekanan darah tinggi antara lain seledri, ketimun, labu siam, selada air, lobak, tomat, belimbing wuluh, belimbing manis, semangka, wortel, pisang, apel, dan kiwi. http://nyurian.wordpress.com/2011/07/04/terapi-jus-untuk-menurunkan-tekanan-darah-tinggi-hipertensi/

Terapi Untuk Anak Autis

Para orang tua harus hati-hati dan jangan sembarangan membiarkan anaknya sebagai kelinci percobaan. Sayangnya masih banyak yang terkecoh , dan setelah mengeluarkan banyak uang menjadi kecewa oleh karena hasil yang diharapkan tidak tercapai. Dibawah ini ada 10 jenis terapi yang benar-benar diakui oleh para professional dan memang bagus untuk autisme. Namun, jangan lupa bahwa Gangguan Spectrum Autisme adalah suatu gangguan proses perkembangan, sehingga terapi jenis apapun yang dilakukan akan memerlukan waktu yang lama. Kecuali itu, terapi harus dilakukan secara terpadu dan setiap anak membutuhkan jenis terapi yang berbeda. 1) Applied Behavioral Analysis (ABA) ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai , telah dilakukan penelitian dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bias diukur kemajuannya. Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia. 2) Terapi Wicara Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang. Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong. 3) Terapi Okupasi Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot -otot halusnya dengan benar. 4) Terapi Fisik Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya. Kadang-kadang tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot-ototnya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya. 5) Terapi Sosial Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi . Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam ketrampilan berkomunikasi 2 arah, membuat teman dan main bersama ditempat bermain. Seorang terqapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan mengajari cara2nya. 6) Terapi Bermain Meskipun terdengarnya aneh, seorang anak autistik membutuhkan pertolongan dalam belajar bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi social. Seorang terapis bermain bisa membantu anak dalam hal ini dengan teknik-teknik tertentu. 7) Terapi Perilaku. Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak memahami mereka, mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya, Mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya, 8) Terapi Perkembangan Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan Intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih spesifik. 9) Terapi Visual Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambar-gambar, misalnya dengan metode …………. Dan PECS ( Picture Exchange Communication System). Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan komunikasi. 10) Terapi Biomedik Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN! (Defeat Autism Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik. Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anak-anak ini diperiksa secara intensif, pemeriksaan, darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan. Terrnyata lebih banyak anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (biomedis). http://www.autis.info/index.php/terapi-autisme/10-jenis-terapi-autisme

Penyebab dan penyembuhan gagap pada anak-anak

Bagaimana saya tahu jika anak saya gagap? Pada anak-anak adalah hal yang biasa jika bicara tidak lancar (ada jeda, mengulang-ulang, penambahan kata, atau perpanjangan suatu kata/bunyi/frase). Sebenarnya, sekitar 5% anak mengalami kegagapan pada saat tertentu masa perkembangannya, biasanya saat usia pra sekolah (sebelum sekolah). Adalah normal juga bagi anak jika ia maju mundur di antara waktu bicara lancar dan tidak lancar. Kadang-kadang, hal ini bisa terjadi oleh sebab yang tidak pasti, namun sering ini terjadi ketika anak terlalu gembira, capek, atau terburu-buru bicara. Jumlah ketidaklancaran yang terjadi saat anak bicara adalah bukanlah merupakan faktor penting dalam memutuskan apakah anak gagap. Secara umum, tergagap pada 10 buah kata dari 100 kata mungkin mengindikasikan anak mengalami kesulitan. Namun banyak faktor lain yang harus dipertimbangkan, sehingga hanya terapis wicara terlatih yang dapat mendiagnosa dan membantu masalah gagap ini. Apa penyebab bicara gagap? Masih banyak yang belum diketahui dari masalah ini, tapi para ahli setuju penyebabnya bisa merupakan kombinasi berbagai faktor. Pertama, genetika dipercaya mempunyai peranan karena gagap cenderung menurun dalam keluarga. Kebanyakan anak yang gagap mempunyai anggota keluarga yang juga gagap atau gagap sewaktu kecil. Kedua, faktor perkembangan juga memberi kontribusi. Selama masa pra sekolah, fisik, kognitif, sosial/emosional, dan kemampuan bicara-bahasa anak berkembangan dengan sangat pesat. Perkembangan yang pesat ini bisa menimbulkan kegagapan pada anak yang terpengaruh oleh hal ini. Karena itulah biasanya gagap terjadi pada usia pra sekolah. Ketiga, faktor lingkungan bisa mempengaruhi. Contohnya perilaku dan harapan orang tua, lingkungan bicara dan bahasa anak, dan kejadian-kejadian yang menegangkan. Ini tidak berarti orang tua melakukan sesuatu yang salah. Sering kali faktor-faktor ini tidak mempengaruhi anak yang memang tidak gagap, tapi bisa menimbulkan kegagapan pada anak yang memang mempunyai kecenderungan untuk itu. Terakhir, rasa takut anak dan kekuatiran akan gagap bisa menyebabkan hal ini berlanjut dan bahkan memburuk. Bagaimana memperlakukan dan membantu masalah gagap pada anak? Sistem yang banyak dipakai terapis wicara untuk anak kecil yang gagap adalah program pelancaran bicara (fluency-shaping program). Dalam program ini, fokusnya adalah meningkatkan produksi kata-kata lancar pada anak. Ini dilakukan dengan membuat anak bicara satu suku kata atau kata dengan lambat dan rileks. Jumlah kata-kata ini kemudian pelan-pelan ditingkatkan sampai anak bisa bicara satu kalimat. Proses ini bisa berlangsung mulai dari beberapa minggu hingga 6 bulan atau lebih. Adalah lebih baik jika orang tua bisa mengikuti sesi terapi sehingga mereka bisa belajar menggunakan pendekatan yang sama di rumah. http://angel-s-wing.blogspot.com/2008/07/penyebab-dan-penyembuhan-gagap-pada.html

Selasa, 20 Maret 2012

BEHAVIOR THERAPY (2)

Flooding & Implosive Therapy (Terapi Implosif & Pembanjiran)
• Peristiwa penghapusan (extinction) dimana individu secara berulang2 dipaksa dihadapkan pada suatu stimulus terkondisi (penghasil kecemasan)
individu dipaksa berada dalam situasi yang mencemaskan & merasakan keseluruhan rasa cemas atau takut, tidak diperkenankan menghindar/melarikan diri dari keadaan tersebut
• terapis memunculkan stimulus2 penghasil kecemasan
klien membayangkan situasi --- terapis berusaha mempertahankan kecemasan klien
• jika seseorang secara berulang2 dihadapkan pada suatu situasi penghasil kecemasan, maka kecemasan akan tereduksi/terhapus
suatu metode langsung yang menantang pasien “untuk menatap mimpi buruknya”

Gradual Habituation = in vivo tp GH tidak menggunakan proses relaksasi
• penunjukkan secara bertahap (graduated exposure) kepada individu, benda atau hewan yang ditakuti.
• Untuk mengatasi ketakutan/kecemasan diciptakan respon yang melawan kecemasan secara bertahap, dimana taraf intensitas atau jarak dari stimulus yang menakutkan lambat laun ditambah (konsep mengabaikan)
• Penderita fobia mis. bisa diberikan hirarki stimulus dari yang tidak menyerupai s/d yang sangat menyerupai (mis : kucing ?). nantinya diharapkan terjadi generalisasi

Pelatihan Asertif
• diterapkan pada situasi interpersonal : individu mengalami kesulitan untuk menyatakan / menegaskan diri (menganggap hal tersebut tindakan tidak layak)
• membantu individu yang : mengalami kesulitan untuk mengungkapkan rasa marah, tersinggung, atau afeksi positif, sopan berlebihan & membiarkan orang lain yang dominan, kesulitan mengatakan “tidak”, merasa tidak punya hak untuk memiliki perasaan2 & pikiran2 sendiri.
• Teknik :
Role play, modeling, reinforcement, group session, relaksasi,

Terapi Aversif (hukuman)
• adanya pengasosiasian tingkah laku simtomatik dengan suatu stimulus yang menyakitkan --- tingkah laku yang tidak diinginkan terhambat kemunculannya.
• Berupa hukuman : kejutan listrik, ramuan mual, pengucilan, pemecatan, penangguhan, denda, penjara,
• Untuk tingkah laku maladaptive : alcohol (AA), ketergantungan obat, merokok, obsesi kompulsi, homoseksual & gangguan seksual.
• Klien perlu mengetahui bahwa konsekuensi2 aversif diasosiasikan hanya dengan tingkah laku maladatif yang spesifik.


OPERANT CONDITIONING

• percobaan ?
Skinner’s box : tikus diletakkan dlm box, mencari jln keluar tanpa sengaja menginjak pedal, terbuka lalu keluar makanan. Proses pemb: kl sy mau sesuatu, sy hrs melakukan sesuatu (reinforcement).
Merah (berhenti), kuning (siap2), hijau (jalan) proses pemb. asosiasi
• konsep-konsep : extinction, generalization, discrimination,
Bentuk :
Pembentukan Respon (Shaping)
Paling efektif buat anak2 & kapasitas terbatas (MR)
• Pengembangan respon yang tadinya tidak ada dalam perbendaharaan tingkah laku seseorang à membentuk tingkah laku
• Tingkah laku secara bertahap diubah dengan memperkuat unsur2 kecil dari tingkah laku baru yang diinginkan, secara berturut2 sampai mendekati tingkah laku akhir.
• Reinforcement sering digunakan dalam proses ini

Perkuatan Positif (Positive Reinforcement)
• pembentukan suatu pola tingkah laku dengan memberikan ganjaran /perkuatan segera setelah tingkah laku yang diharapkan muncul ---- individu belajar, tingkah laku spesifik apa yang diberi reward
• efektif dilakukan pada tahap2 permulaan pembentukan perilaku
• reinforcement :
primer (kebutuhan fisiologis) & sekunder (kebutuhan psikologis & sosial

Perkuatan Intermitten (Intermitten Reinforcement)
• reinforcement diberikan secara bervariasi kepada tingkah laku yang spesifik --- jadual2 reinforcement harus diperhatikan
• tingkah laku lebih tahan terhadap extinction dibandingkan dengan teknik perkuatan positif
• untuk membentuk & memelihara tingkah laku yang telah terbentuk

Penghapusan (Extinction)
• jika respon terus menerus dibuat tapi tanpa reinforcement, respon akan cenderung menghilang ---- pola yang sudah dipelajari menghilang/melemah
• teknik :
• memberikan punishment, menarik reinforcement, mengabaikan, pemberian positive reinforcement
• diberikan serentak
pada tahap awal, tingkah laku laku yang tidak diinginkan mungkin akan menjadi lebih buruk, sebelum akhirnya berkurang/ terhapus

Token Ekonomi
• tingkah laku yang diinginkan diperkuat dengan reinforcement dalam bentuk “tanda” (mis : kepingan), yang nantinya dapat ditukar dengan objek2 atau hak istimewa yang diinginkan.
• Merupakan reinforcement yang sifatnya ekstrinsik -- menjadikan orang2 berperilaku utk meraih sesuatu nantinya.
Tingkah laku yang muncul nantinya diharapkan dengan sendirinya akan menjadi kebiasaan & dapat dipelihara.

MODELLING
• percobaan ?
• individu mengamati model & diperkuat untuk mencontoh tingkah laku model.
• Bandura :
Hasil belajar dapat diperoleh melalui pengalaman langsung maupun tidak langsung (dengan mengamati tingkah laku orang lain berikut konsekuensi2nya – positif / negatif)
• Untuk kecakapan sosial, mengubah reaksi emosional, pengendalian diri, dsb
Status & prestise model akan sangat berpengaruh
BEHAVIOR THERAPY

• Penerapan berbagai macam/teknik modifikasi perilaku untuk treatmen terhadap masalah-masalah klinis, yang didasarkan pada teori belajar (behaviorism)
• Ciri Behavior Therapy (BT) :
menekankan pada tingkah laku yang dapat didefinisikan secara operasional, dapat diamati (observable) dan diukur (measurable)
perlu pengamatan yang cermat terhadap tingkah laku klien
▫ Ada kecermatan dalam menguraikan tujuan treatment ---> spesifik
▫ Perumusan prosedur treatment yang spesifik sesuai masalahnya ---> memilih teknik yang paling sesuai untuk mencapai tujuan
▫ Penafsiran secara objektif tentang hasil terapi ---> keberhasilan dapat dievaluasi

• Tujuan Umum :
Menciptakan kondisi baru bagi proses belajar
semua perilaku adalah hasil dari
proses belajar

• Tujuan khusus :
▫ memperoleh perilaku baru yang adaptif
▫ membuang perilaku yang tidak adaptif
▫ memperkuat & mempertahankan perilaku yang diinginkan

Fungsi & peran terapis
• Trainer --- (melatih klien dengan menerapkan metode2/treatment tertentu), guru, pengarah & ahli dalam diagnosis tingkah laku maladaptif, ahli dalam menentukan prosedur-prosedur penyembuhan yang diharapkan, mengarahkan klien pada perilaku baru yang lebih adaptif
• menuntut adanya skill dari terapis, sensitivitas, & ketajaman dlm analisis klinis

Faktor utama dalam terapi : motivasi klien.
▫ Klien juga aktif dalam pemilihan/penentuan tujuan,
▫ Kesediaan untuk mengerjakan tugas2 yang diberikan, bersedia bekerjasama dalam melakukan aktivitas terapeutik
▫ Ketidakmauan untuk berubah, kurangnya motivasi, tidak ada kerjasama ---> kegagalan treatmen pada behavior therapy.
• The therapeutic relationship
pentingnya hubungan terapeutikbaik dari pasien maupun terapis

ASSESSMENT & IDENTIFIKASI MASALAH
Metode antara lain :
• interview – 5w + 1H
• self report – pikiran, fantasi, perasaan
• guided imagery – klien membayangkan suatu situasi/peristiwa & menceritakan pikiran2 yang muncul ---> diketahui reaksi klien terhadap suatu situasi/menghadapi problematic life situation
• Roleplaying – roleplay a situation
• Physiologycal Recording
• Monitoring psychophysiological reaction
• self monitoring
• mencatat keseharian – situasi2 & reaksi psikologis
• behavioral observation (da prosedur yang baku, bisa melatih orang tua, guru, perawat dsb
• angket dan tes psikologi

TEKNIK-TEKNIK TERAPI
• Classical Conditioning
• Operant Conditioning
• Modelling
CLASSICAL CONDITIONING
• percobaan ?
• konsep-konsep : extinction, generalization, discrimination,
Desensitisasi Sistematik
• untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif
• menyertakan pemunculan tingkah laku / respon yg berlawanan dg tingkah laku yg akan dihapus
• penggantian stimulus -> stimulus penghasil kecemasan dilemahkan -> gejala kecemasan dikendalikan & dihapus
• melibatkan teknik relaksasi
• mengembangkan respon fisiologis yang bertentangan dengan kecemasan, yang secara sistematis diasosiasikan dengan aspek2 dari situasi yang mengancam
• urutan :
Menyusun hirarki kecemasan/ketakutan
▫ Menyusun daftar yang bertingkat mengenai situasi2 yang kemunculannya akan meningkatkan taraf kecemasan / penghindaran & membuat kartu situasi
Latihan relaksasi
• relaksasi otot : latihan kontraksi & pengenduran otot-otot yang berbeda -> santai/tenang
• memikirkan/membayangkan situasi2 yg membuat tenang/damai
Proses desensitisasi
• Mempraktekan, dimulai dari kecemasan pada taraf paling rendah --- membayangkan – cemas/tegang - relaksasi.
• dibantu oleh terapis, dicoba praktek sendiri

• Ada 3 penyebab kegagalan (Wolpe):
kesulitan dalam relaksasi (komunikasi K-T, hambatan pada diri klien)
tingkatan tidak “pas” – penanganan tingkatan juga keliru
ketidakmemadaian dlm membayangkan
• Desensitisasi dapat dilaksanakan dengan cara :
• Imaginery /imaginal : membayangkan
• in vivo : diperlihatkan / dihadapkan pada stimulus yang sesungguhnya

Rabu, 07 Maret 2012

Psikoterapi menurut saya :)

Menurut saya, berdasarkan pembelajaran di kelas dan membaca beberapa buku, dapat disimpulkan bahwa psikoterapi adalah proses untuk menyembuhkan dan menangani masalah seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
Ada banyak masalah yang sering ditemukan, contohnya seperti masalah dengan atasan di kantor, masalah dengan suami atau pasangan, bahkan masalah dengan diri sendiri seperti masalah keuangan.
Masalah di atas dapat mengakibatkan seseorang mengalami sakit hati, emosi dan juga dendam. Disaat ini lah terapi dapat dipergunakan.
Orang yang biasa memberi terapi dinamakan terapis.
Psikoterapi fokus untuk memecahkan masalah dan menitik beratkan tujuan yang diidamkan oleh klien. Klien yang datang ke terapis biasanya juga diberikan obat-obatan.
Masalah klien akan mudah terpecahkan asalkan klien dapat bekerjasama dengan terapis dan bertekad sungguh-sungguh untuk berubah menuju hal yang lebih baik.

Apasih Psikoterapi?

Psikoterapi adalah serangkaian metode berdasarkan ilmu-ilmu psikologi yang digunakan untuk mengatasi gangguan kejiwaan atau mental seseorang.
Pengertian
Psyche : mind atau jiwa Therapy : merawat, mengobati, menyembuhkan

Ciri psikoterapi :  pribadi yang positif atau optimal (afektif, kognitif, perilaku atau kebiasaan) 3. Tindakan, berdasar : ilmu (teori), teknik, skill yang formal - assessment (data yang diperoleh melalui proses assessment, wawancara, observasi, tes, dsb) 1. Proses : Interaksi 2 pihak, formal, profesional, legal, etis 2. Tujuan : Perubahan kondisi psikologis individu.

Tujuan terapi (Korchin) : 1. memperkuat motivasi klien untuk melakukan hal yang benar 2. mengurangi tekanan emosional 3. mengembangkan potensi klien 4. mengubah kebiasaan 5. memodifikasi struktur kognisi 6. memperoleh pengetahuan tentang diri 7. mengembangkan kemampuan berkomunikasi & hubungan interpersonal 8. meningkatkan kemampuan mengambil keputusan 9. mengubah kondisi fisik 10. mengubah kesadaran diri 11. mengubah lingkungan sosial.

Dasar psikoterapi : Manusia pada dasarnya bisa dan mungkin untuk dipengaruhi / diubah melalui intervensi psikologi yang direncanakan

Terapi akan efektif jika : Adanya pemulihan dalam hubungan interpersonal - adanya keterampilan coping yang lebih baik - pertumbuhan personal

Sejarah Psikoterapi :  upaya mengusir roh jahat dengan cara tidak manusiawi (mengisolasi, mengikat, memasung) Psikoterapi berawal dari upaya menyembuhkan pasien yang menderita penyakit jiwa - berabad-abad yang lalu orientasi mistik - mendirikan asylum - Anton Mesmer Mempergunakan teknik hypnosis, memukul) - Philipe Pinel Melakukan pendekatan bersifat manusiawi, yang berorientasi kasih sayang (love oriented approach) dan sugesti, teknik hypnosis kemudian digunakan oleh Jean Martin Charcot - Paul Dubois Merumuskan dan menekankan peranan penting teknik berbicara (speech technique, talking cure) yang digunakan kepada pasien. Paul Dubois tercatat sebagai “The First Psychotherapiest” - Joseph Breuer (senior dari Sigmund Freud) dan Sigmund Freud - menggunakan teknik hypnosis dan cikal bakal lahirnya psikoanalisis) talking cure dilakukan terhadap pasien dalam keadaan sadar (talking cure dilakukan terhadap pasien dalam keadaan hypnosis - Pada Sigmund Freud teknik berbicara dalam upaya menyembuhkan pasien histeria - Pada Breuer.

Sumber : Wikipedia.

Pengaruh Musik Pada Anak

Penelitian membuktikan bahwa musik, terutama musik klasik sangat mempengaruhi perkembangan IQ (Intelegent Quotien) dan EQ (Emotional Quotien). Seorang anak yang sejak kecil terbiasa mendengarkan musik akan lebih berkembang kecerdasan emosional dan intelegensinya dibandingkan dengan anak yang jarang mendengarkan musik. Yang dimaksud musik di sini adalah musik yang memiliki irama teratur dan nada-nada yang teratur, bukan nada-nada "miring". Tingkat kedisiplinan anak yang sering mendengarkan musik juga lebih baik dibanding dengan anak yang jarang mendengarkan musik.
Grace Sudargo, seorang musisi dan pendidik mengatakan, "Dasar-dasar musik klasik secara umum berasal dari ritme denyut nadi manusia sehingga ia berperan besar dalam perkembangan otak, pembentukan jiwa, karakter, bahkan raga manusia".
Penelitian menunjukkan, musik klasik yang mengandung komposisi nada berfluktuasi antara nada tinggi dan nada rendah akan merangsang kuadran C pada otak. Sampai usia 4 tahun, kuadran B dan C pada otak anak-anak akan berkembang hingga 80 % dengan musik.
"Musik sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Musik memiliki 3 bagian penting yaitu beat, ritme, dan harmony", demikian kata Ev. Andreas Christanday dalam suatu ceramah musik. "Beat mempengaruhi tubuh, ritme mempengaruhi jiwa, sedangkan harmony mempengaruhi roh". Contoh paling nyata bahwa beat sangat mempengaruhi tubuh adalah dalam konser musik rock. Bisa dipastikan tidak ada penonton maupun pemain dalam konser musik rock yang tubuhnya tidak bergerak. Semuanya bergoyang dengan dahsyat, bahkan cenderung lepas kontrol. Kita masih ingat dengan "head banger", suatu gerakan memutar-mutar kepala mengikuti irama music rock yang kencang. Dan tubuh itu mengikutinya seakan tanpa rasa lelah. Jika hati kita sedang susah, cobalah mendengarkan musik yang indah, yang memiliki irama (ritme) yang teratur. Perasaan kita akan lebih enak dan enteng. Bahkan di luar negeri, pihak rumah sakit banyak memperdengarkan lagu-lagu indah untuk membantu penyembuhan para pasiennya. Itu suatu bukti, bahwa ritme sangat mempengaruhi jiwa manusia. Sedangkan harmony sangat mempengaruhi roh. Jika kita menonton film horor, selalu terdengar harmony (melodi) yang menyayat hati, yang membuat bulu kuduk kita berdiri. Dalam ritual-ritual keagamaan juga banyak digunakan harmony yang membawa roh manusia masuk ke dalam alam penyembahan. Di dalam meditasi, manusia mendengar harmony dari suara-suara alam disekelilingnya. "Musik yang baik bagi kehidupan manusia adalah musik yang seimbang antara beat, ritme, dan harmony", ujar Ev. Andreas Christanday.
Seorang ahli biofisika telah melakukan suatu percobaan tentang pengaruh musik bagi kehidupan makhluk hidup. Dua tanaman dari jenis dan umur yang sama diletakkan pada tempat yang berbeda. Yang satu diletakkan dekat dengan pengeras suara (speaker) yang menyajikan lagu-lagu slow rock dan heavy rock, sedangkan tanaman yang lain diletakkan dekat dengan speaker yang memperdengarkan lagu-lagu yang indah dan berirama teratur. Dalam beberapa hari terjadi perbedaan yang sangat mencolok. Tanaman yang berada di dekat speaker lagu-lagu rock menjadi layu dan mati, sedangkan tanaman yang berada di dekat speaker lagu-lagu indah tumbuh segar dan berbunga. Suatu bukti nyata bahwa musik sangat mempengaruhi kehidupan makhluk hidup.
Alam semesta tercipta dengan musik alam yang sangat indah. Gemuruh ombak di laut, deru angin di gunung, dan rintik hujan merupakan musik alam yang sangat indah. Dan sudah terbukti, bagaimana pengaruh musik alam itu bagi kehidupan manusia.
Wulaningrum Wibisono, S.Psi mengatakan, "Jikalau Anda merasakan hari ini begitu berat, coba periksa lagi hidup Anda pada hari ini. Jangan-jangan Anda belum mendengarkan musik dan bernyanyi".


Kamis, 19 Januari 2012

SUKU DAYAK di KALIMANTAN TIMUR



Unsur-unsur Budaya
Suku Dayak adalah suku asli Kalimantan yang hidup berkelompok yang tinggal di pedalaman, di gunung dan sebagainya. Kata Dayak itu sendiri sebenarnya diberikan oleh orang-orang Melayu yang datang ke Kalimantan. Orang-orang Dayak sendiri sebenarnya keberatan memakai nama Dayak, sebab lebih diartikan agak negatif. Padahal, semboyan orang Dayak adalah “Menteng Ueh Mamut”, yang berarti seseorang yang memiliki kekuatan gagah berani, serta tidak kenal menyerah atau pantang mundur.
Pada tahun (1977-1978) benua Asia dan pulau Kalimantan yang merupakan bagian nusantara yang masih menyatu, memungkinkan ras mongoloid dari asia mengembara melalui daratan dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang disebut pegunungan “Muller-Schwaner”. Suku Dayak merupakan penduduk Kalimantan yang sejati. Namun setelah orang-orang Melayu dari Sumatra dan Semenanjung Malaka datang, mereka makin lama makin mundur ke dalam, ditambah kedatangan orang-orang Bugis, Makasar dan Jawa pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit.
Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak, sering disebut ”Nansarunai Usak Jawa”, yakni sebuah kerajaan Dayak Nansarunai yang hancur oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389 (Fridolin Ukur,1971). Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasala dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun 1608). Sebagian besar suku Dayak memeluk Islam dan tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak, tapi menyebut dirinya sebagai orang Melayu atau orang Banjar.
Tidak hanya dari nusantara, bangsa-bangsa lain juga berdatangan ke Kalimantan. Bangsa Tionghoa diperkirakan mulai datang ke Kalimantan pada masa Dinasti Ming tahun 1368-1643. Dari manuskrip berhuruf kanji disebutkan bahwa kota yang pertama di kunjungi adalah Banjarmasin. Kedatangan bangsa Tionghoa tidak mengakibatkan perpindahan penduduk Dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung karena langsung karena mereka hanya berdagang, terutama dengan kerajaan Banjar di Banjarmasin. Mereka tidak langsung berniaga dengan orang Dayak.
Bahasa Suku Dayak
Bahasa-bahasa daerah di Kalimantan Timur merupakan bahasa Austronesia dari rumpun Malayo-Polynesia, diantaranya adalah Bahasa Tidung, Bahasa Banjar, Bahasa Berau dan Bahasa Kutai. Bahasa lainnya adalah Bahasa Lundayeh.

Sistem Kepercayaan Suku Dayak
Animisme dan dinamisme merupakan kepercayaan nenek moyang bangsa Indonesia secara umum. Bagi orang Dayak alam semesta dan semua makhluk hidup mempunyai roh dan perasaan sama seperti manusia, kecuali soal akal.
Oleh sebab itu bagi Suku Dayak segenap alam semesta termasuk tumbuh-tumbuhan dan hewan harus diperlakukan sebaik-baiknya dengan penuh kasih sayang. Mereka percaya perbuatan semena-mena dan tidak terpuji akan dapat menimbulkan malapetaka. Itu sebabnya selain sikap hormat, mereka berusaha mengelola alam semesta dengan se-arif dan se-bijaksana mungkin.
Meskipun sepintas kepercayaan orang Dayak seperti polytheisme, tetapi mereka percaya bahwa alam semesta ini diciptakan dan dikendalikan oleh penguasa tunggal yaitu Letalla. Letalla mendelegasikan tugas-tugas tertentu sesuai dengan bidang-bidang tertentu, kepada para Seniang, Nayuq dan lain-lain. Seniang memberikan pembimbingan, sedangkan Nayuq akan mengeksekusi akibat pelanggaran terhadap adat dan norma.
Seiring berjalan waktu, kini beberapa orang yang berasal dari suku Dayak banyak yang sudah memeluk agama antara lain islam, kristen katolik, kristen protestan dan konghucu.

Seni Suara Suku Dayak
1.      Nyanyian Kandan
Berasal dari suku Dayak Siang atau Murung. Boleh dilakukan oleh pria dan wanita secara bergantian dan saling bersahutan dalam suatu pesta atau pertemuan yang diadakan untuk menghormati  seorang pejabat atau pimpinan pemerintah dan lagu-lagu pujian serta doa rakyat kepada pemimpinnya. Biasanya acara disertai jamuan makan.
2.      Nyanyian Salengot
Biasanya dinyanyikan oleh pria dalam suatu pesta perkawinan tapi dilarang ditampilkan saat upacara kematian.
3.      Nyanyian Dadeo dan Ngaloak
Ditemukan oleh suku Dayak Dusun Tengah dan dilakukan pada saat perkawinan ataupun pesta lain yang dihadiri oleh masyarakat dan pejabat kampong.
4.      Nyanyian Setangis
Dilakukan oleh pria dan wanita pada suatu upacara kematian. Tema lagu menceritakan riwayat hidup orang yang meninggal
5.      Nyanyian Riwut Andau
Berasal dari Kuala Kapuas (Kota Bataguh). Tema nyanyian memperingati rapat besat berdirinya kota Bataguh.
6.      Manawur
Ada unsur religius dimana seorang pemuka agama menaburkan beras sambil membacakan mantra-mantra.
7.      Mansana Kayau
Menceritakan sesuatu dalam bentuk nyanyian yang bersahutan.
8.      Mansana Kayau Pulang
Nyanyian buaian sebelum tidur di malam hari. Dianyanyikan orang tua yang ditujukan kepada anak-anaknya dengan maksud mengobarkan semangat mereka untuk membalas dendam leluhur yang telah dibunuh oleh Tambun Baputi.
9.      Ngendau
Nyanyian yang bersifat senda gurau diantara muda mudi dan dinyanyikan secara bersahutan.
10.  Kelalai-lalai
Menari sambil bernyanyi dalam upacara menyambut tamu. Terdapat di daerah Kotawaringin pada suku Dayak Mama (darat)
11.  Mohing Asang
Nyanyian perang yang merupakan komando dari panglima perang dengan membunyikan serentak 7 kali dan terdengar Mohing Asang, yang artinya siap maju bertempur.
12.  Natum
Nyanyian mengenai sejarah masa lalu (tetek tatum).
13.  Natum Pangpanggal
Ratap tangis kesedihan karena kematian anggota keluarga.
14.  Dongdong
Nyanyian pada saat manugal padi (menanam padi).
15.  Dodot
Nyanyian pada saat berkayuh di perahu atau rakit.
16.  Marung
Nyanyian pada saat diadakan pesta besar.
17.  Ngandan
Timangan orang tua kepada anak-anaknya.
18.  Mansana Bandar
Menceritakan seorang pahlawan putri jaman dulu.
19.  Karunya
Diadakan pada saat menyambut tamu yang sangat dihormati atau pada saat penobatan seorang pimpinan. Nyanyian ini diiringi oleh bunyi-bunyian dan dibawakan oleh 2-7 orang. Tema nyanyian memuji dan menyembah Tuhan Yang Maha Esa.
20.  Balian
Dinyanyikan pada saat upacara tiwah atau upacara kematian.
21.  Jaya
Dinyanyikan oleh dukun pada saat mengobati orang sakit.
22.  Baratabe
Nyanyian yang tujuannya untuk menyambut kedatangan tamu.

Seni Berpantun Suku Dayak
1.      Perentangin
2.      Ngelengot
3.      Ngakey
4.      Ngeloak

Alat Musik Tradisional Suku Dayak

Alat Musik
Keterangan
Gendang
Ada beberapa jenis Gendang yang dikenal oleh suku Dayak Tunjung:
  • Prahi
  • Gimar
  • Tuukng Tuat
  • Pampong
Genikng
Sebuah gong besar yang juga digantungkan pada sebuah standar (tempat gantungan) seperti halnya gong di Jawa.
Gong
Sama seperti gong di Jawa, dengan diameter 50-60 cm
Glunikng
Sejenis alat musik pukul yang bilah-bilahnya terbuat dari kayu ulin. Mirip alat musik saron di Jawa.
Jatung Tutup
Gendang besar dengan ukuran panjang 3 m dan diameter 50 cm
Jatung Utang
Sejenis alat musik pukul dari kayu yang berbentuk gambang. Memiliki 12 kunci, tergantung dari atas sampai bawah dan dimainkan dengan kedua belah tangan.
Kadire
Alat musik tiup yang terbuat dari pelepah batang pisang dan memiliki 5 buah pipa bambu yang dibunyikan dengan mempermainkan udara pada rongga mulut untuk menghasilkan suara dengung.
Klentangan
Alat musik pukul yang terdiri dari enam buah gong kecil tersusun menurut nada-nada tertentu pada sebuah tempat dudukan berbentuk semacam kotak persegi panjang (rancak). Bentuk alat musik ini mirip denganbonang di Jawa. Gong-gong kecil terbuat dari logam sedangkan tempat dudukannya terbuat dari kayu.
Sampe
Sejenis gitar atau alat musik petik dengan dawai berjumlah 3 atau 4. Biasanya diberi hiasan atau ukiran khas suku Dayak.
Suliikng
Alat musik tiup yang terbuat dari bambu. Ada beberapa jenis suliikng:
  • Bangsi / Serunai
  • Suliikng Dewa
  • Kelaii
  • Tompong
Taraai
Sebuah gong kecil yang digantungkan pada sebuah standar (tempat gantungan). Alat pemukul terbuat dari kayu yang agak lunak.
Uding (Uring)
Sebuah kecapi yang terbuat dari bambu atau batang kelapa. Alat musik ini dikenal juga sebagai Genggong (Bali) atau Karinding (Jawa Barat).


Upacara Adat
Upacara adat adalah segala bentuk ritual ataupun tradisi yang dilakukan oleh masyarakat sebagai ungkapan pengakuan akan eksistensi suatu kekuasaan atau kekuatan lain yang melebihi kemampuan manusia. Pada masa sekarang ini, penyelenggaraan upacara adat yang murni sudah semakin sulit ditemukan. Hal tersebut dapat dimaklumi mengingat semakin meningkatnya kesadaran beragama di kalangan masyarakat Kalimantan Timur, bahkan di wilayah pedalaman. Namun upacara adat tetap dapat dijumpai sebagai salah satu daya tarik wisata. Penyelenggaraan upacara adat sangat erat kaitannya dengan kesenian tari. Berikut ini diuraikan jenis upacara adat dan jenis tari yang menyertainya.
1.    Upacara Pengobatan
Menyajikan tari Belian. Merupakan upacara yang diselenggarakan untuk menyembuhkan orang sakit, baik itu sakit secara jasmani maupun rohani. Namun metode pengobatannya tetap sama, yaitu dengan menggunakan sesajen-sesajen yang dipersembahkan kepada roh nenek moyang melalui pembacaan mantra-mantra tertentu oleh seorang dukun.
Harapan yang ingin dicapai adalah agar roh nenek moyang memberikan kesembuhan kepada orang yang sakit. Namun bukan berarti setiap penyakit dapat disebuhkan, karena masyarakat juga meyakini bahwa kematian adalah takdir yang harus mereka hadapi. Keputusan antara peluang hidup dan matinya seseorang tersebut akan disampaikan oleh sang dukun setelah tarian belian selesai dilakukan.
2.    Upacara Tolak Bala
Menyajikan tari Belian. Merupakan upacara yang diselenggarakan untuk mempelas kampung. Upacara ini diadakan ketika pembentukan/pendirian koloni baru di suatu tempat dan ketika sedang terjadi bencana yang melanda kampung tersebut. Upacara ini dipimpin oleh seorang dukun dengan mempersembahkan sesajen dan membaca mantra sambil menari, sebagai bentuk komunikasi dengan roh nenek moyang.Harapan yang ingin dicapai adalah agar roh nenek moyang menghindarkan/menghilangkan bencana dan memberikan keselamatan bagi kampung.
3. Upacara Pernikahan
Menyajikan tari Datun, tari Jepen dan tari Jepen Tungku. Merupakan upacara peresmian hubungan sepasang muda-mudi menjadi ikatan suami-istri untuk membentuk rumah tangga. Upacara ini disertai seserahan dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan yang diwakilkan oleh wali masing-masing, dengan beberapa tahapan tertentu. Jenis seserahan dan cara penyerahan sangat beragam bergantung dari strata keluarga dalam masyarakat. Upacara ini ditutup dengan penyelenggaraan pesta yang dihibur dengan beberapa jenis tarian daerah.Harapan yang ingin dicapai adalah sebagai bentuk sosialisasi agar semua masyarakat mengetahui berita baik tersebut, serta mendoakan agar setiap rumah tangga mendapat berkah bagi kelangsungan hidupnya secara khusus dan menjadi berkah bagi masyarakat di kampung tersebut secara umum.
4. Upacara Membuang Bangkai
Merupakan upacara pemindahan tulang-tulang arwah yang telah meninggal dari kuburan keluarga ke suatu kuburan lain yang dikhususkan dan dianggap sebagai tempat keabadian. Upacara ini dilaksanakan 2-3 kali dalam setahun, tergantung dari perintah kepala suku.
Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengenang jasa para arwah semasa hidupnya serta mempersembahkan
tempat peristirahatan terakhir yang istimewa.
5.    Upacara Sebelum Menanam
Menyajikan tari Hudog. Merupakan upacara yang diselenggarakan sebelum memulai musim bertani/berkebun. Upacara ini disertai pula dengan persembahan sesajen kepada roh nenek moyang. Upacara ini dilakukan 1 kali dalam setahun. Tujuan dari upacara ini adalah agar roh nenek moyang memberkati sawah/kebun yang akan diolah serta menjauhkannya dari roh-roh jahat perusak tanaman. 
6.      Upacara Setelah Panen
Menyajikan tari Enggang Terbang, tari Hudog dan tari Jiak. Merupakan upacara yang diselenggarakan pada saat panen, mulai dari sebelum memetik hasil panen hingga perayaan setelah memetik hasil panen dilakukan, sebagai wujud rasa syukur atas rejeki yang telah diperoleh. Upacara ini juga menjadi simbol bahwa hasil panen yang telah dipetik, layak/boleh untuk dinikmati. Tujuan dari upacara ini adalah mendoakan agar roh nenek moyang memberkati hasil panen yang telah dipetik dan agar semua hasil panen tersebut membawa keberkahan bagi seluruh kampung. 
7.      Upacara Selamatan
Menyajikan tari Enggang Terbang, tari Gantar dan tari Pecuk-pecuk Kina. Merupakan upacara yang diselenggarakan jika terjadi suatu keberkahan yang luar biasa pada kampung. Upacara ini disertai pula dengan persembahan sesajen kepada roh nenek moyang.
Upacara ini diadakan sebagai wujud rasa syukur terhadap kebaikan roh nenek moyang yang telah memberikan anugerah tersebut.
8.      Upacara Pemujaan
Menyajikan tari Gantar. Merupakan upacara yang diselenggarakan sebagai bentuk pengakuan dan pemujaan sekaligus wujud kepasrahan diri terhadap roh nenek moyang yang dipercaya memiliki kekuatan jauh melebihi kemampuan manusia, yaitu berupa kekuatan dalam mengatur dan mengendalikan kehidupan secara mutlak, dan mereka tunduk serta taat kepadanya.
9.      Upacara Perayaan
Menyajikan tari Enggang Terbang dan tari Gantar. Merupakan upacara adat yang diselenggarakan sebagai pesta rakyat, dengan beragam perlombaan olahraga fisik seperti begolo, begasing dan panjat pinang. Upacara ini ditutup dengan penyelenggaraan acara/pesta yang menyuguhkan beragam hidangan mewah dan dapat dinikmati sambil menyaksikan pergelaran tarian adat. Maksud dari upacara ini hanyalah sebagai media hiburan bagi masyarakat untuk berekreasi sejenak setelah melakukan aktivitas rutin sehari-hari. Namun justru pada upacara inilah proses sosialisasi antar individu masyarakat dapat berlangsung secara optimal.
10.   Upacara Penerimaan Tamu Agung
Menyajikan tari Enggang Terbang dan tari Ronggeng. Merupakan upacara yang diselenggarakan oleh suatu kampung jika kedatangan seorang atau rombongan tamu. Upacara ini tidak semeriah upacara-upacara adat lainnya, karena bersifat insidental dan diadakan segera setelah tamu tersebut memasuki wilayah kampung, sehingga waktu persiapannya pun terbatas. Namun maksud terpenting dari upacara ini bukanlah meriahnya acara, melainkan untuk menunjukkan keramahan dari tuan rumah dalam menyambut tamu tersebut, untuk menimbulkan kesan positif pada setiap tamu yang datang. Pada akhirnya akan terwujud suatu bentuk kerjasama tertentu antara kedua belah pihak.
11.  Upacara Pembunuhan Kerbau
Dalam kepercayaan masyarakat, adalah suatu kewajiban bagi setiap orang yang masih hidup untuk menyelenggarakan upacara membunuh kerbau sebagai persembahan bagi orang tua yang telah meninggal dunia. Upacara ini diselenggarakan dalam tiga tahap dan membutuhkan dana yang besar. Penyelenggaraannya tidak harus segera setelah orang tua meninggal dunia, namun dapat menunggu sampai pihak keluarga benar-benar siap secara materi. Penyelenggaraan upacara ini adalah satu-satunya cara yang diakui secara adat untuk menunjukkan rasa cinta kasih anak kepada orang tua yang telah meninggal. Selain itu juga untuk menghormati dan membalas budi kedua orang tua serta mendoakan agar arwahnya dapat melewati alam yang baik sebagaimana yang diyakini masyarakat.
12.  Upacara Pemberian Gelar
Menyajikan tari Kanjar dan Ganjur. Merupakan upacara yang dilakukan untuk menganugerahkan gelar yang diberikan oleh Raja kepada tokoh atau pemuka masyarakat yang dianggap berjasa terhadap Kerajaan. Upacara ini dilengkapi dengan jamuan mewah kepada rakyat sebagai tanda terima kasih dari Raja atas pengabdian rakyatnya.
13.  Upacara Penobatan Raja
Menyajikan tari Kanjar dan Ganjur. Merupakan upacara yang diselenggarakan dalam rangka peresmian/penobatan raja yang baru terpilih. Upacara ini dilakukan setiap terjadi pergantian masa kekuasaan kerajaan. Upacara ini merupakan upacara paling meriah yang diselenggarakan oleh kerajaan, dengan berbagai macam ritual/tahapan upacara yang harus dilaksanakan secara berturut-turut tanpa terkecuali.

Seni Tari Suku Dayak
1.    Tari Gantar
2.    Tari Kancet Papatai atau Tari Perang
3.    Tari Kancet Ledo atau Tari Gong
4.    Tari Kancet Lasan
5.    Tari Leleng
6.    Tari Hudoq
7.    Tari Hudoq Kita’
8.    Tari Serumpai
9.    Tari Belian Bawo
10.              Tari Kuyang
11.              Tari Pecuk Kina
12.              Tari Datun
13.              Tari Ngerangkau
14.              Tari Baraga’ Bagantar

Sistem Pernikahan Suku Dayak
Dahulu orang Dayak umumnya tidak mengenal istilah berpacaran sebelum memasuki jenjang perkawinan seperti yang kita ketahui sekarang. Namun, saat itu hanya dikenal istilah batunangan, yaitu, ikatan kesepakatan dari kedua orang tua masing-masing untuk mencalonkan kedua anak mereka kelak sebagai suami isteri. Proses batunangan ini dilakukan sejak masih kecil, namun umumnya dilakukan setelah akil balig. Hal ini hanya diketahui oleh kedua orang tua atau kerabat terdekat saja. Pelaksanaan upacara perkawinan memakan waktu dan proses yang lama. Hal ini dikarenakan harus melalui berbagai prosesi, antara lain :
1.      Basasuluh
Seorang laki-laki yang akan dikawinkan biasanya tidak langsung dikawinkan, tetapi dicarikan calon gadis yang sesuai dengan sang anak maupun pihak keluarga. Hal ini dilakukan tentu sudah ada pertimbangan-pertimbangan.
2.      Batatakun atau Melamar
Setelah diyakini bahwa tidak ada yang meminang gadis yang telah dipilih maka dikirimlah utusan dari pihak lelaki untuk melamar, utusan ini harus pandai bersilat lidah sehingga lamaran yang diajukan dapat diterima oleh pihak si gadis.
3.      Bapapayuan atau Bapatut Jujuran.
Kegiatan selanjutnya setelah melamar adalah membicarakan tentang masalah kawin. Pihak lelaki kembali mengirimkan utusan, tugas utusan ini adalah berusaha agar masalah kawin yang diminta keluarga si gadis tidak melebihi kesanggupan pihak lelaki.
4.      Maatar Jujuran atau Maatar Patalian.
Merupakan kegiatan mengantar masalah kawin kepada pihak si gadis yang maksudnya sebagai tanda pengikat. Juga sebagai pertanda bahwa perkawinan akan dilaksanakan oleh kedua belah pihak. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh para ibu, baik dari keluarga maupun tetangga.
5.      Bakakawinan atau Pelaksanaan Upacara Perkawinan .
Sebelum hari pernikahan atau perkawinan, mempelai wanita mengadakan persiapan, antara lain:
a.  Bapingit dan Bakasai.
Bagi calon mempelai wanita yang akan memasuki ambang pernikahan dan perkawinan, dia tidak bisa lagi bebas seperti biasanya, hal ini dimaksudkan untuk menjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan (Bapingit). Dalam keadaan Bapingit ini biasanya digunakan untuk merawat diri yang disebut dengan Bakasai dengan tujuan untuk membersihkan dan merawat diri agar tubuh menjadi bersih dan muka bercahaya atau berseri waktu disandingkan di pelaminan.
b. Batimung.
Hal yang biasanya sangat mengganggu pada hari pernikahan adalah banyaknya keringat yang keluar. Hal ini tentunya sangat mengganggu khususnya pengantin wanita, keringat akan merusak bedak dan dapat membasahi pakaian pengantin. Untuk mencegah hal tersebut terjadi maka ditempuh cara yang disebut Batimung. Setelah Batimung badan calon pengantin menjadi harum karena mendapat pengaruh dari uap jerangan Batimung tadi.
c. Badudus atau Bapapai.
Mandi Badudus atau bapapai adalah uapacara yang dilaksanakan sebagai proses peralihan antar masa remaja dengan masa dewasa dan juga merupakan sebagai penghalat atau penangkal dari perbuatan-perbuatan jahat. Upacara ini dilakukan pada waktu sore atau malam hari. Upacara ini dilaksanakan tiga atau dua hari sebelum upacara perkawinan.
d. Perkawinan (Pelaksanaan Perkawinan)
Upacara ini merupakan penobatan calon pengantin untuk memasuki gerbang perkawinan. Pemilihan hari dan tanggal perkawinan disesuaikan dengan bulan Arab atau bulan Hijriah yang baik. Biasanya pelaksanaan upacara perkawinan tidak melewati bulan purnama.

Senjata Tradisional Suku Dayak
1.      Sipet atau Sumpitan
Merupakan senjata utama suku dayak. Bentuknya bulat dan berdiameter 2-3 cm, panjang 1,5 – 2,5 meter, ditengah-tengahnya berlubang dengan diameter lubang ¼ – ¾ cm yang digunakan untuk memasukan anak sumpitan (Damek). Ujung atas ada tombak yang terbuat dari batu gunung yang diikat dengan rotan dan telah di anyam. Anak sumpit disebut damek, dan telep adalah tempat anak sumpitan.
2.      Lonjo atau Tombak
Dibuat dari besi dan dipasang atau diikat dengan anyaman rotan dan bertangkai dari bambu atau kayu keras.
3.         Perisai
Terbuat dari kayu ringan, tetapi liat. Ukuran panjang 1 – 2 meter dengan lebar 30 – 50 cm. Sebelah luar diberi ukiran atau lukisan dan mempunyai makna tertentu. Disebelah dalam dijumpai tempat pegangan.
4.      Mandau
Merupakan senjata utama dan merupakan senjata turun temurun yang dianggap keramat. Bentuknya panjang dan selalu ada tanda ukiran baik dalam bentuk tatahan maupun hanya ukiran biasa. Mandau dibuat dari batu gunung, ditatah, diukir dengan emas atau perak atau tembaga dan dihiasi dengan bulu burung atau rambut manusia. Mandau mempunyai nama asli yang disebut “Mandau Ambang Birang Bitang Pono Ajun Kajau”, merupakan barang yang mempunyai nilai religius, karena dirawat dengan baik oleh pemiliknya. Batu-batuan yang sering dipakai sebagai bahan dasar pembuatan Mandau dimasa yang telah lalu yaitu: Batu Sanaman Mantikei, Batu Mujat atau batu Tengger, Batu Montalat.
5.      Dohong
Senjata ini semacam keris tetapi lebih besar dan tajam sebelah menyebelah. Hulunya terbuat dari tanduk dan sarungnya dari kayu. Senjata ini hanya boleh dipakai oleh kepala-kepala suku, Demang, Basir.

Tradisi Penguburan
Peti kubur di Kutai. Foto tersebut merupakan foto kuburan Dayak Benuaq di Kutai. Peti yang dimaksud adalah Selokng (ditempatkan di Garai). Ini merupakan penguburan primer - tempat mayat melalui Upacara/Ritual Kenyauw. Sementara di sebelahnya (terlihat sepotong) merupakan Tempelaq yang merupakan tempat tulang si meninggal melalui Upacara atau Ritual Kwangkay. Tradisi penguburan dan upacara adat kematian pada suku bangsa Dayak diatur tegas dalam hukum adat. Sistem penguburan beragam sejalan dengan sejarah panjang kedatangan manusia di Kalimantan. Dalam sejarahnya terdapat tiga budaya penguburan di Kalimantan :
  • penguburan tanpa wadah dan tanpa bekal, dengan posisi kerangka dilipat.
  • penguburan di dalam peti batu (dolmen)
  • penguburan dengan wadah kayu, anyaman bambu, atau anyaman tikar. Ini merupakan sistem penguburan yang terakhir berkembang.

Kaitan Psikologi Lintas Budaya dengan Kepribadian dan Moral
            Keunikan alam Kalimantan Timur, masyarakat dan budaya yang terikat dalam nilai-nilai adat. Kekentalan adat istiadat dalam budaya di suku Dayak mempengaruhi pola kehidupan. Masyarakat menjaga nilai-nilai dan norma-norma untuk menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan manusia juga dengan alam. Keunikan ini juga secara otomatis membentuk kepribadian yang unik, salah satunya yaitu nuansa mistik. Nuansa mistik juga ditemukan pada acara adat dan ritual budaya.


Abstrak
Adat Community around the globe particularly in Indonesia is facing a massive problem. This phenomenon refers to two cardinal issues namely: the willingness of the government to recognize their rights and existence, and how to maximizing their participation in national development programs. This paper deals with certain issues such as definition and concepts being debated, inconsistency to link between local history, identity socio-cultural and economic rights of the adat community. In this stage, the first party responsible for empowering the adat community is the government, however there is an immense disparity between ideal plan to empower them, and systemic deteriorating of the peoples life condition and all of their right. Implying some definitions and categories, this paper underlines as well as the actual life condition of adat community currently, that is not merely impacted on external factors but also from internal factors. This paper ends with six conclusions to emphasize ways for coping with current crisis of the adat community in Indonesia.

Sumber
Taman Mini Indonesia Indah, khususnya Anjungan Kalimantan Timur
Pelangi Budaya dan Anugerah Wisata Alam Kalimantan Timur (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Timur)
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak
http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/12210255276.pdf