Rabu, 27 Juni 2012

Kasus Terapi Perilaku

Contoh Kasus Behaviour Therapy (Terapi Perilaku) Contoh kasusnya: Albert Einsten yang dikenal sebagai ahli/penemu, dengan kekurangannya dia berhasil menemukan teori relativitas yang belum tentu bisa dilakukan oleh orang normal. Disini dia memiliki potensi yang tertutupi dan tidak diketahui oleh orang lain. Ternyata dibalik itu, dia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang normal biasanya. Terapi perilaku, berupaya untuk melakukan perubahan pada anak autistik dalam arti perilaku yang berlebihan dikurangi dan perilaku yang berkekurangan (belum ada) ditambahkan. Dalam terapi perilaku, fokus penanganan terletak pada pemberian reinforcement positif setiap kali anak berespons benar sesuai instruksi yang diberikan. Tidak ada hukuman (punishment) dalam terapi ini, akan tetapi bila anak berespons negatif (salah/tidak tepat) atau tidak berespons sama sekali maka ia tidak mendapatkan reinforcement positif yang ia sukai tersebut. Perlakuan ini diharapkan meningkatkan kemungkinan anak untuk berespons positif dan mengurangi kemungkinan ia berespons negatif (atau tidak berespons) terhadap instruksi yang diberikan. Untuk menjadikan anak autis menjadi orang yang luar biasa, kita hanya perlu memberikan kasih sayang dan terapi autisme agar anak bisa berkembang dengan baik. Seperti yang telah kita ketahui, anak autis biasanya mempunyai masalah dengan perilaku dan interaksi dengan orang lain (komunikasi). Sehingga ketika kita ingin memberikan terapi autisme pada anak kita bisa mengacu pada dua hal tersebut. http://jonbares.wordpress.com/2012/04/17/kasus-terapi-perilaku/

Tujuan terapi DBT, MBT, TFP, SFT, GPM dan STEPPS

Tahap 1 Pada Tahap 1, psikoterapi melengkapi tujuan utama untuk mencapai manajemen pengobatan yang optimal dari gejala paling menyedihkan dan diarahkan pada fitur umum dari gangguan borderline. Oleh karena itu, tujuan utama terapi di Tahap ini adalah: ● Meningkatkan keselamatan ● Meminimalkan ancaman terhadap kepatuhan pengobatan dan partisipasi teratur dalam terapi ● Mengurangi perilaku impulsif dan berbahaya yang merugikan diri sendiri ● Mendiagnosa dan mengobati segera semua co-terjadi gangguan, gangguan zat terutama penggunaan dan eisodes depresi utama ● Meningkatkan dasar perawatan diri misalnya, makan, tidur, perawatan dan kegiatan rutin sehari-hari ● Memvalidasi perasaan, dan ● Meningkatkan motivasi Tahap 2 Pada Tahap 2, Terapi bergeser secara bertahap dengan tujuan dan metode terapi dari yang umum untuk mengatasi gejala khusus dan tingkat fungsi. Misalnya, tujuan mungkin termasuk banyak dari yang berikut: ● Memvalidasi perasaan; meningkatkan pengakuan manajemen mereka dengan terlibat dalam perubahan yang sesuai dalam sikap dan perilaku ● Meningkatkan keselamatan dengan mengembangkan metode yang efektif perilaku alternatif untuk menangani masalah ● Mengurangi perilaku impulsif dan berbahaya, terutama mereka yang merugikan diri sendiri dan bunuh diri ● Mengidentifikasi, kemudian memodifikasi persepsi yang tidak akurat dan pola pikir, seperti split-berpikir ● Meningkatkan keterampilan interpersonal dan kualitas hubungan ● Meningkatkan harga diri dan mengurangi keputusasaan ● Belajar keterampilan baru cukup baik memanfaatkan mereka secara rutin Sebagaimana disebutkan di atas, tujuan jangka pendek dan jangka panjang tertentu dan metode batas gangguan khusus psikoterapi bervariasi dari satu jenis terapi yang lain. Idealnya, terapis akan dapat dengan mudah berpindah dari strategi satu metode yang lain dalam kecerdasan sesuai kebutuhan. Dialektis Perilaku Terapi Terapi perilaku dialektis (DBT) merupakan modifikasi dari CBT . Ini dikembangkan awalnya untuk pasien dengan gangguan borderline , terutama yang terlibat dalam perilaku merusak diri sendiri dan merugikan diri sendiri sering. DBT didasarkan pada konsep bahwa gejala gangguan borderline adalah hasil dari gangguan biologis yang melekat pada mekanisme otak yang mengatur respon emosional. Hasil perilaku awal gangguan ini diperbesar sebagai anak berinteraksi dengan orang tua dan orang lain yang tidak mengerti dan memvalidasi (mengakui dan menerima) tingkat rasa sakit emosional anak, dan yang tidak membantu anak untuk belajar keterampilan yang efektif untuk mengatasi dia atau penderitaannya. Sasaran perilaku utama DBT adalah: Penurunan perilaku bunuh diri, Mengurangi perilaku tersebut yang mengganggu terapi dan kualitas hidup, Meningkatkan keterampilan perilaku, Mengurangi perilaku yang berkaitan dengan posting stres traumatik Mentalization Berbasis Terapi (MBT) MBT dikembangkan oleh Bateman dan Fonagy sebagai pengobatan spesifik untuk gangguan borderline. Diusulkan bahwa orang dengan gangguan borderline terbatas dalam kemampuan mereka untuk konsep (mentalize). MBT didasarkan pada pemahaman tentang dasar neurobiologis dari sistem otak yang mendasari gejala dan perilaku yang merupakan ciri khas dari gangguan ini. Penggunaan klinis MBT ditandai sebagai memiliki empat fitur utama: 1) Terapis memfokuskan secara eksklusif pada pasien, perasaan pikiran, keinginan 2) Terapis menghindari diskusi yang tidak terkait dengan realitas subyektif 3) Penciptaan dalam terapi iklim di mana pikiran dan perasaan dapat dianggap 4) Pemahaman yang disempurnakan perasaan dan pikiran. Praktek MBT oleh terapis ditingkatkan oleh ketersediaan pedoman khusus dan bahan pelatihan lainnya dalam buku mereka. Diusulkan bahwa MBT mungkin paling dekat dengan TFP dalam orientasi untuk keadaan mental dalam konteks lampiran. Untuk mendukung hal ini adalah penelitian menemukan bahwa mentalization lampiran terkait (kapasitas reflektif) membaik pada TFP, tapi tidak dalam DBT atau SPP. Transferensi Terfokus Psikoterapi (TFP) TFP adalah bentuk tertentu dari psikoterapi psikodinamik yang telah dikembangkan secara khusus untuk pasien dengan gangguan borderline. Sebuah ciri khusus dari TFP, berbeda dengan pengobatan lain untuk gangguan borderline, adalah keyakinan bahwa gangguan psikologis dalam struktur kepribadian mendasari gejala spesifik dari gangguan Gangguan ini. membagi persepsi individu menjadi ekstrem buruk dan baik split, yang menentukan cara mereka mengalami sendiri dan orang lain. Singkatnya, dia menentukan pengalaman mereka tentang realitas. Perawatan di TFP awalnya berfokus pada pengaturan dengan pasien perjanjian perilaku yang berkaitan dengan ancaman kemungkinan yang mungkin terjadi dalam proses pengobatan, baik untuk pengobatan dan untuk kesejahteraan mereka . Terapi kemudian pindah ke memodifikasi gangguan psikologis primer dan mengurangi gejala, terutama dengan memeriksa, memahami dan meningkatkan interaksi pasien dengan terapis. Skema-Terfokus Terapi (SFT) SFT secara khusus dikembangkan untuk mengobati gangguan borderline. Tidak seperti jenis lain dari terapi untuk gangguan ini, ia menawarkan integrasi terstruktur teknik terapi perilaku psikodinamik, mendukung dan kognitif. SFT didasarkan pada premis bahwa orang dengan gangguan borderline memiliki struktur kepribadian lebih kaku, masalah psikologis kronis dan sistem kepercayaan sangat dipegang tapi tidak akurat dibandingkan mereka yang tanpa gangguan. Di antara gejala yang paling sulit adalah perubahan yang sangat cepat dalam suasana hati dari cinta untuk membenci dan lebar total dan keparahan dari semua gejala yang dilaporkan. Sistem Pelatihan untuk Prediktabilitas Emosional dan Problem Solving (STEPPS) STEPPS adalah rawat jalan kelompok perlakuan program yang dikembangkan pada tahun 1995 oleh Nancee Blum untuk melengkapi, tetapi tidak mengganti, pengobatan lain (s) seperti psikoterapi individual dan obat untuk pasien dengan gangguan borderline. Tujuan yang dinyatakan STEPPS adalah untuk: ● Sepenuhnya manualized ● Mudah diajarkan dan diterapkan di berbagai pengaturan ● Menyediakan konten yang spesifik / metode untuk setiap sesi Secara konseptual, dalam gangguan STEPPS perbatasan dipandang sebagai gangguan regulasi emosi dan perilaku, termasuk gangguan persepsi seperti berpikir semua atau tidak sama sekali (membelah). Ini dikembangkan untuk mengatasi gejala utama dari gangguan, dan untuk menghindari keterbatasan DBT dan MBT. DBT membutuhkan komitmen waktu yang lebih besar (2 ½ jam per minggu dari pelatihan keterampilan selama satu tahun ditambah satu jam dengan terapis DBT dilatih oleh pengembangnya dibandingkan dengan jam 2 setiap sesi kelas minggu STEPPS lebih dari 20 minggu ditambah perawatan dengan ahli terapi saat ini. http://jonbares.wordpress.com/2012/03/13/terapi-psikologi/

Psikoterapi Untuk Gangguan Borderline

Ada enam jenis psikoterapi untuk gangguan borderline yang memiliki bukti penelitian efektivitas, antara lain: 1. Terapi Perilaku dialektis (DBT) 2. Mentalization Berbasis Terapi (MBT) 3. Transferensi Psikoterapi Terfokus (TFP) 4. Skema-Terfokus Terapi (SFT) 5. Umum Psikiatri Manajemen (GPM) 6. Sistem Pelatihan untuk Prediktabilitas Emosional dan Pemecahan Masalah http://jonbares.wordpress.com/2012/03/13/terapi-psikologi/

Teori dan Praktek Psikoterapi (Eksistensial)

Analisa Eksistensial 1. Teori Proses Teraopatik Analisa Eksistensial melihat ketidakotentikan hidup adalah sumber psikopatologi, maka keotentikan adalah jalan keluarnya. Adapun proses vitalnya adalah proses peningkatan kesadaran (consciousness raising). Pasien diarahkan sebagai subjek dengan kebebasannya memilih, tanggung-jawab dan memaksimalkan potensinya. a. Peningkatan kesadaran Pasien dibiarkan menjadi dirinya, bukan diarahkan seperti keinginan teraupatis. Kebanyakan pasien akan mengulang-ulang pola terdahulunya dalam berelasi dan membentuk relasi tranferensi. Ini adalah upaya menyembunyikan kondisi asli si-pasien. Dengan dibuka, disadarkan sebagai “person”, maka akhirnya sipasien membuka ketidak-otentikannya. Misalnya dia mengatakan; bukankah kemarahan, menangis itu kekanak-kanakan? Terapis akan mengatakan tidak! Bila perlu marah, marahlah. Pasien dianggap mengalami kemajan bila ia mau meninggalkan pengalaman egosentrisnya, dan masuk kedalam dialog yang lebih jujur atau otentik dengan terapisnya.[16] Ini problem psikoterapis-Eksistensial, ia tidak membuat jejak, bagaimana membuat pasien meningkat kesadarannya. Mereka tidak sepakat dengan sistematika terhadap terapi-Eksistensial, karena hakekat terapi sendiri adalah pertemuan sejati antara terapis dan pasien ( kata Biswanger dan Boss). Mereka sepakat bahwa kerja terapis dimulai dengan pemahaman atas dunia fenomenal pasien, yakni berusaha mengalami bangunan yang unik dari dunia subjektif dari pasien tanpa memasukkan prasangka-prasangka terapis kedalamnya. Para terapis untuk mengorek itu menggunakan prosedur klarifikasi untuk pengungkapan dimensi atau aspek tertentu yang disembunyikan si-pasien. Atau si-terapis mengungkapkan pengalamannya sendiri guna mendapat tanggapan yang jujur dari sipasien [dengan itu biasanya si-pasien, keluar dari proteksinya]. b. Pemilihan Dijelaskan pada si-pasien bahwa dalam hal apapun pilihan ada padanya, bahkan saat memilih siapa terapisnya, datang atau tidak saat terapi dan seterusnya. Pilihan dan tanggung-jawab ada pada si-pasien. Pasein dijelaskan bahwa apapun karena dia adalah “subjek”, diharapkan ia mengambil keputusan, dengan berbagai alternative pilihan, tidak semua diketahui hasilnya. Tetapi harus memilih, semua manusia seperti itu dan dalam pilihannya itu, ia akan mendapatkan hasil “susah, gembira”, dengan semuanya itu diharapkan ia dengan berkata “Ya” untuk mengambil tanggung-jawabnya. Jalan menuju keotentikan pada dasarnya adalah jalan kesunyian dimana hanya kita [si-pasien] sendirilah yang harus bertanggung-jawab atas pilihan-pilihan yang diambilnya.[17] Kadang saat terapi, pasien ingin menjadi tidak otentik, ia menyerahkan pengambilan-pengambilan keputusan, pilihan dari terapis. Misalnya dengan kata-kata; apa yang harus saya lakukan? (ia menolak untuk mengambil keputusan, dan diserahkan kekuasaan itu pada terapis) Saya kok tidak dapat hasil apa-apa dari terapi ini setelah sekian lama dok? (hasil atau tidak, terus atau berhenti terapi, pasienlah yang harus memutuskan). Dan seterusnya. Teori isi teraupatik Analisis Eksistensial membantu si-pasien mengatasi konflik ada-dalam-dunia, ada-bersama-oranglain dan ada-dalam-diri-sendiri. Sekaligus melangkah keseberang konflik-konflik itu, menuju pemenuhan diri (self-full-filment) a. Konflik-konflik intrapersonal Dalam Kecemasan-Eksistensial seperti; kematian, penderitaan, ketuaan dan lain-lain, analis Eksistensial hanya memberikan jalan, bahwa itu harus diterima sebagai konsekuensi kita sebagai individu. Bukan dibuat ‘barier’ dengan berbohong (mengatakan ia bisa muda terus-menerus), diproyeksikan bahwa ini semua bukan dari dirinya dari factor luar dan lain-lain. Menerima secara berani kecemasan Eksistensial sebagai bagian dari keberadaan dan sebagai harga yang harus dibayar bagi keotentikan yang ingin dicapai. b. Konflik-konflik interpersonal Problem utama masalah ini biasanya adalah’ keintiman, seksualitas dan komunikasi juga kebencian dan hasrat untuk menguasai. Analis Eksistensial hanya memberikan resep bahwa “Kamu” adalah subjek, dengan segala atribut ke-subjek-annya. Bebas memilih, diciptakan untuk mengisi semua potensi yang mungkin bagi dirinya, bertanggung-jawab terhadap pilihan itu dan seterusnya. Kekurangan-kekurangan dalam masalah konflik interpersonal, analis hanya menunjukkan Subjek-lah yang mampu mengatasi. Analis hanya mengarahkan supaya si-pasien benar-benar menjadi subjek, dengan mencari upaya-upaya penyelesaian obat-obat disetiap problemnya. c. Konflik individu versus lingkungan Mereka mempertanyakan, bagaimana individu bisa sehat jika masyarakat tempat mereka menyesuaikan diri adalah masyarakat yang tidak bisa memperbedakan antara yang benar dan yang tidak benar. Ambiguitas dalam soal kebenaran dan ketidakbenaran ini, menurut para eksistensialis, amat terasa pada masyarakat modern. Dalam situasi semacam ini [robotisasi, otomatisasi alienasi dan seterusnya], jika individu ingin sehat, dia haruslah sadar dan berani memikul tanggung jawab untuk menjadi dirinya sendiri alih-alih meniadi pengekor orang lain atau menjadi bidak massa. Menjadi diri sendiri adalab meng-ada-bersama-orang lain tanpa menjadi milik orang lain. Pendek kata, dengan kesadaran dan keberaniannya, individu bisa dan harus melampaui lingkungannya. Kita lihat contoh-contohnya; Mahatma Gandhi, Khomeini dan lain-lain. d. Keseberang konflik menuju pemenuhan diri Tujuan analisis eksistensial tidak hanya membantu individu atau pasien untuk menyelesaikan konflik-konflik yang dialaminya, tetapi juga membantu pasien untuk melangkah ke seberang koflik menuju pemenuhan diri. Makanya individu perlu bertanya kepada dirinya sendiri: Adakah sesuatu yang saya perjuangkan? Untuk apa sesuatu itu saya perjuangkan? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini, jika muncul di dalam terapi, bisa menakutkan, tetapi bisa juga memotivasi pasien untuk meninggalkan langkah-langkah yang memberi rasa aman tetapi tidak memberikan makna bagi keberadaannya. Sebaliknya, jika pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak muncul dan atau dihindari, maka pasien akan lebih jatuh ke dalam keadaan depresi, suatu keadaan yang menandai sense of meaninglessness. Teori relasi terapeutik Relasi antara pasien dengan terapis akan berjalan baik bilarelasinya adalah Aku-Kamu. Artinya tidak ada yang mencoba untuk mengobjektivasi pasien-terapis. Makanya terapis haruslah lebih otentik dan sehat dari-pada pasien.[18] Validasi uraian Fenomenologi-Eksistensial Van Kaam (1966) mengatakan; “pengalaman-pengalaman seperti tanggung-jawab, ketakutan, kecemasan, keputusasaan, kebebasan, cinta, keheranan, dan keputusan tidak dapat diukur dan dieksperimenkan. Kesemua pengalaman itu semata-mata ada dan hanya bisa diterangkan apa adanya”. Ada beberapa cara untuk validasi hal-hal diatas yaitu; Metode intrasubjektif Misalnya dengan menguraikan tentang tingkah laku yang sama, yang muncul dalam situasi-situasi berbeda, kemudian uraian itu di diperbandingkan. Jika uraian-uraian itu ternyata konsisten dengan gambaran yang terdapat pada urian yang lain, maka uraian-uraian itu bisa dikatakan valid. [19][Secara umum jalannya adalah; 1) melihat fenomena-fenomena masyarakat yang beragam dan kacau balau. Disini kita melihat-lihat fakta-fakta religius (baik itu pikiran, tindakan, perasaan dan maksud-maksud dari seseorang yang diungkapkan dalam tindakan-tindakan luar). Pemahaman ungkapan-ungkapan yang bersifat subjektif inilah yang membuat kita mengetahui fakta itu, berupa suatu tindakan kebaktian, bukan sekedar gerakan saja (misal dalam doa, sholat, tari dan lain-lain). Pertama; (proyek Husserl) landasan berfikir semua hal adalah kehadiran, seperti kata Husserl, “Prinsip segala prinsip adalah hanya intuisi langsung (dengan tidak menggunakan perantara apapun)”. Ini berarti apapun yang kita lihat, pandang dan persepsi awalnya adalah apa yang kita alami. Penglihatan dan pemahaman kita selanjutnya menggunakan pemahaman awal (langsung itu). Berarti ini Subjektivitas. Jawabnya positif, Ya. Inilah yang kita miliki awal. Dengan reduksi-reduksi nanti kita bisa hilangkan subjektivitas itu. Pemahaman suatu fenomena religius meliputi empati terhadap pengalaman, emosi, ide-ide dari orang lain dan seterusnya. Empati memperlihatkan pemahaman terhadap tingkah laku orang lain berdasarkan pengalaman dan tingkah laku kita sendiri. Kalau orang tidak pernah mengalami tindakan religius atau ritual tertentu, ia tidak akan pernah memahami makna tindakan religius ini dari dalam. Untuk mengetahui suatu tindakan X adalah kebaktian, bahwa Y adalah tindakan kurban dan Z adalah tindakan Doa. Fakta ini mengandaikan perlunya Objektivitas. Dengan kata lain fenomena religius itu adalah objektif, meski fakta sebenarnya berdasarkan pada subjektivitas. Disinilah kita perlu konsep kedua kata Husserl, Epoche (menaruh dalam kurung atau melakukan reduksi-reduksi. Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa tindakan X adalah tarian ritual. Ini kita melihat tidak hanya gerakannya, namun kita menangkap itu kepenuh-artian-nya. Untuk dapat menangkap itu kita perlu mengetahui seluk beluk, bahasa, dan penjelasan langsung dari penarinya (disinilah perlunya sejarah, antropologi dan sosiologi agama, sebagai pembantu fenomenologi agama. Membiarkan fenomena itu sendiri yang berbicara). Dengan ini kita mengetahui ciri religiositasnya. Juga dengan membandingkan dari pengamat-pengamat lainnya. Dengan ini maka kita sampai ke metodologi ilmiah. 2) Mengadakan penggolongan dan klasifikasi/taksonomi. Kesemua itu dilakukan dengan menyusun Tipologi[20], Struktur dan Morfologi. 3) Memisah-misahkan untuk mencari kejelasan, membuang yang tidak bersangkutan dan lain-lain. Ada proses abstraksi disini, dan pembuatan type-ideal. Ini dilakukan dengan apa yang dalam proyek Husser ketiga disebut variasi eidentis (dengan pemahaman[21], empati dan wawasan imajinatif). 4) Mencari hubungan korelasi antara satu sebab dengan sebab yang lain. 5) Pembuatan hipotesa/ramalan. Jika ini maka itu dan lain-lain. (Misal: Pengaturan penguburan menunjuk pada kepercayaan akan kebangkitan badan, tarian ritual yang mengungkapkan ketakutan akan daya adi kodrati dan lain-lain). 6) Verifikasi dan Falsifikasi. 7) “Hukum” [22](Misal: Suatu suku bangsa mempertahankan upacara-upacara pemulihan karena takut pada kemarahan para dewa). Dari keterangan diatas (yang memang hanya sebagai pengantar) maka kita bisa mendapatkan satu hal yang cukup penting; yaitu perspektif lain dari Realisme/empirisme dan Idealisme/rasionalisme. Dengan fenomenologi ini (sekalipun mengarah kerelativisme) kita bisa mengatakan; bahwa apapun itu berproses, tidak selesai dan definitif. Tidak mungkin mengetahui sesuatu tanpa melihat “sejarahnya”[23]. Dan perspektif kita akan ilmu pengetahuan yang bebas nilai (free-value) jelas tidak memiliki dasar, dan optimisme yang berlebihan kepada ilmu-pengetahuan harus diturunkan, tanpa menjadi penentangnya. Apakah ini berbahanya bagi Agama sebagai institusi yang mengklaim kebenaran absolut?. Jawabnya tergantung: “Apakah kita yakin bisa memperoleh hal yang pasti, benar dan absolut”, atau “kita yakin tidak mungkin memperolehnya”, atau malah “kita yakin memang Allah tidak menyuruh kita mencari kebenaran absolut itu”. (ini semua perlu didiskusikan dan dipelajari lebih lanjut)[24]] Atau contoh lain menganalisa pengalaman “dimengerti”, kalau seorang itu mengerti apa yang kita maksud, maka ada beberapa unsure yang ada secara fenomena, misalnya; merasa puas, nyaman, ada isyarat mengerti dan lain-lain, lalu ini dicobakan kebebarapa subjek penelitain ternyata signifikan; maka point-point itu dipercaya sebagai fenomena “dimengerti”.[25] Metode intersubjektif Diperbandingkan antar pengamat seperti penjelasan diatas. Analisis Mimpi Sama dengan analisis mimpi Frued, hanya penafsirannya yang berbeda-beda. Apa yang disembunyikan dan lain-lain dapat dilihat dalam mimpi itu. menurut Boos, mimpi adalah bentuk lain dari mengada-dalam-dunia. Mimpi itu harus diterima utuh apa adanya [tidak seperti Frued yang diarikan simbolik] baik isi maupun maknanya. Kata Boss, bentuk keberadaan atau cara meng-ada seseorang yang terlukis didalam mimpinya sering merupakan salinan dari caranya meng-ada dalam kehidupan sadar. Pembuatan definisi operasional dan kuesioner untuk eksperimen Ini missal yang paling pentik adalah “Makna Hidup”. Bagaimana ini bisa diteliti secara eksperimental? Konsep-konsep Frankl itu dicoba dicarikan validasinya oleh murid-murinya. Secara rasional Crumbaugh dan Maholick mendefinisikan “maksud hidup” sebagai “signifikansi ontologism hidup” dari titik pandang individu yang mengalaminya. Kemudian secara operasional mereka mengukur (mengetes) maksud hidup itu dengan alat test yang mereka susun berdasarkan kerangka acuan logoterapi (terapi aliran Frankl), dan tiga test lain atas kuisioner frankl, The Allport-Vernon-Lindzey Scale of Value (A-V-L), dan The Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI) dan seterusnya. http://humanisme-kebenaran.blogspot.com/2010/03/4-filsafat-psikologi-terapi-psikologi.html

Teori Kepribadian dan Psikopatologi

Biswanger-Boss Seperti para Eksistensial lainnya, ia menolak kalau kepribadian dianngap sebagai sekumpulan sifat yang tetap pada manusia. Mereka mengatakan bahwa kepribadian itu dinamis. Sebab mereka percaya ada-dalam-dunia ala Heidegger, dimana manusia dan alam sama-sama berkembang. Manusia menghayati alamnya, dengan penghayatan itu maka diri manusia berkembang dan berkembang pula dunia yang dia alami. Ada-dalam-dunia, oleh Biswanger-Boss dibedakan menjadi 3 yaitu; a) ada-dalam-alam (being-in-nature), b) ada-bersama-orang lain (being-with-other) dan ada-bagi-diri-sendiri (being-for-oneself). Ini adalah hal umum yang dialami oleh manusia. Ada-dalam-alam (bagaimana menghayati alamnya, laut, darat dan seterusnya). Ada-bersama-orang lain (kesosialan manusia, apa ia bisa berhubungan dengan orang lain atau tidak). Apakah dengan berhubungan social ia menjadi altruisme, egoisme atau menjadi dirinya sendiri. Yaitu ada-bagi-diri-sendiri. Disini diandaikan dengan kedua hubungan diatas, manusia tetap menjadi subjek, mampu melakukan refleksi untuk perbaikan-perbaikan, sehingga ia mampu menjadi person. Unik, dengan pilihannya dengan rasa tanggung-jawabnya. Dalam hidupnya manusia mengalami “perkembangan keberadaan”, dimana dengan segalanya (ketiga tahapan diatas), manusia mampu mengisi segala kemungkinan-kemungkinannya. Manusia yang hidup dengan sungguh-sungguh, ia akan berusaha untuk merealisasikan segala kemungkinannya, segala kemungkinan bawaannya. Dan manusia dengan kebebasannya mampu untuk merealisasikan itu secara potensial. Individu yang menolak merealisasikan kemungkinan-kemungkinannya sendiri, berarti menghindari tanggung-jawab. Dan penghindaran ini berarti manusia hidup tidak otentik. Penolakan atau kegagalan individu dalam menjalankan mandatnya untuk merealisasikan kemungkinan-kemungkinan dari keberadaannya akan melahirkan “dosa-Eksistensial” (Extential quilt) sebagai hukuman atas diri individu.[11] Dalam merealisasikan dirinya, manusia punya keterbatasan sebab ia adalah mahkluk yang terlempar (throwness) meminjam dari Heidegger. Manusia waktu lahir dengan segala keterbatasan yang melingkupinya. Tubuhnya, lingkungannya, genetikanya, orang-tuanya dan seterusnya. Demikian juga dengan pilihannya karena keterbatasannya tadi maka ada “opportunity-cost” (biaya kesempatan, meminjam istilah ekonomi, [MA]) artinya karena kekurangan yang manusia punya, bila ia memilih satu pilihan untuk memperoleh realisasi potensi “X”, maka ia menghilangkan kemungkinan realisasi potensi “Y” dan seterusnya. Walau tidak mungkin untuk “sempurna”, tetapi “optimalisasi dengan batasan”[12] (bahasa ekonomi lagi, [MA]) harus diupayakan. Kalau tidak manusia tidak otentik dan bisa malah psikopatologi. Rollo May Ia menyoroti beberapa masalah yaitu kekosongan; katanya, kekosongan adalah kondisi individu yang tidak mengetahui lagi apa yang diinginkannya dan tak lagi memiliki kekuasaan terhadap apa yang terjadi dan dialaminya. Ini banyak dialami dalam masyarakat modern..mereka kanya bisa merespon, tetapi tidak bisa memilih respon apa yang paling baik buat kediriannya. Contohnya adalah manusia giroskop (takut mati, dengan segala kekuasaan yang dimiliki), apatis, pasivitas dan lain-lain. Kesepian, ini dialami masyarakat modern karena rutinitas, robotisasi dan alienasi. Mereka takut ditolak oleh sesama, dan memiliki hasrat untuk diterima orang lain. Mereka berkegiatan bersama, pesta dan lain-lain, ini semua bukan didasari oleh kehendak untuk menciptakan kebersamaan dan saling membagi pengalaman dalam kehangatan manusiawi, melainkan semata-mata didasari oleh ketakutan berada sendirian atau ketakutan diisolasi oleh orang lain. Kesendirian ditakuti bukan karena kesendiriannya, melainkan karena dengan itu maka individu itu akan kehilangan diri dan keberadaannya.[13] Kecemasan juga merupakan hal lain dalam manusia modern. Mereka tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperankan dan dimainkan, asas-asas apa yang harus diikuti. Semuanya sudah otomatisasi, globalisasi, efisinsi dan seterusnya.[14] Tetapi manusia juga memiliki kesadaran diri yaitu kapasitas yang memungkinkan manusia mampu mengamati dirinya sendiri maupun membedakan dirinya dari dunia (orang lain), serta kapasitas yang memungkinkan orang mampu menempatkan dirinya didalam waktu (masa kini, lampau dan datang). Viktor Frankl[15] Ia mengatakan, dengan menggunakan kebijaksanaan dari Nietzsche; “Dia yang mengetahui untuk apa dia hidup, akan bisa mengatasi hampir semua yang terjadi atas dirinya”. Frankl berkeyakinan bahwa kita bebas, dan salah satu kebebasannya adalah bebas berkeinginan. Hanya pasien skizopren yang dihinggapi delusi bahwa keinginan-keinginan dirinya dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan luar, juga para filosof determinstik. Manusia tidak bebas dari kondisinya, tetapi manusia itu bebas untuk mensikapi kondisi tersebut. Disamping itu, menurut frankl; manusia adalah mahkluk yang motivasi utamanya dalam hidup adalah “mencari makna”. Ia mengatakan bahwa kesenangan, kebahagiaan bukanlah tujuan, bila itu yang dituju, menjadi tujuan, justru itu tak akan tercapai. Kesenangan, kebahagiaan adalah efek samping dari hikmat, menjalankan sesuatu untuk kehidupan. Sukses juga bukan tujuan, tetapi efek samping dari dedikasi dam pengorbanan untuk peradaban, manusia lain dan seterusnya. Penciptaan makna adalah tanggung-jawab yang harus dipikul oleh manusia. Roland Liang Dia mengatakan bahwa apabila kita secara simpatik ikut merasakan dunia para pasien skizopren, maka kita akan menemukan bahwa emosi-emosi dan tingkah-laku se pasien adalah respon yang alamiah terhadap situasi-situasi yang secara Eksistensial membahayakan dirinya. Liang mengkritik lingkungan rumah sakit yang tidak memberikan upaya pasien untuk reintegrasi diri… mereka memperlakukan itu sebagai “salah”, dengan perlakuan-perlakuan orang-orang yang “salah”. Bukan sebagai pasien yang merespon kondisi yang membuatnya seperti itu. http://humanisme-kebenaran.blogspot.com/2010/03/4-filsafat-psikologi-terapi-psikologi.html