Rabu, 27 Juni 2012

Tema-tema Eksistensial

Kebersamaan, Cinta dan Pertentangan Kebersamaan atau manusia sebagai makhluk social (homo socius) adalah hal penting dalam Eksistensialis. Manusia social adalah bukan suatu kebetulan melainkan merupakan sesuatu yang sudah seharusnya ada, sebab kebersamaan adalah ciri yang essensial dari keberadaan manusia. Sein-ist-mit-sein, keberadaan manusia adalah keberadaan bersama, kata Heidegger. Kebersamaan ini ada artinya bila dijalani dengan kerjasama, saling menunjang. Dan puncak kebersamaan itu adalah kebersamaan yang dijalani dalam hubungan cinta yang sungguh-sungguh sejati dengan corak Aku-Kamu. Tetapi tidak semua Eksistensialis percaya dan optimis dengan kebersamaan manusia. Sartre salah satu Eksistensialis yang tak mendukung itu. Ia mengatakan setiap hubungan antar individu, pasti berupaya mengobjekkan yang lain, termasuk dalam cinta. Puncak pesimisme hubungan social, diungkapkan dengan kata-kata; “Orang lain itu Neraka”. Kesepian dan Keterasingan Kesepian adalah kemungkinan yang dihadapi oleh setiap manusia. Dalam kesepian, individu mengalami keterputusan tidak hanya dengan sesama, juga dengan alamnya, Tuhannya. Ia hanya tinggal dirinya sendiri. Karenanya dalam kesepian manusia tidak menemukan kepuasan dalam berhubungan dengan dirinya sendiri.[9] Orang yang kesepian itu menemukan dirinya tidak berdaya, tidak berharga, dan kehilangan gairah hidup. Manusia pada zaman modern ini akan makin banyak mendapati dirinya kesepian dan keterasingan baik karena pekerjaan, cepatnya arus informasi dan lain-lain. Kematian Ini adalah peristiwa yang harus, mau atau tidak manusia akan mengalaminya. Pada sebagian Eksistensialis, melihat kematian dengan pesimistis dan absurditas seperti Albert Camus dan Sartre. Mereka mengatakan kematian adalah kembalinya manusia dari ketiadaan menjadi tiada lagi. Tetapi ada Absurditas dan Nihilis yang optimis yaitu Nietzsche. Sementara lainnya menganggap kematian dengan optimistis. Heidegger mengatakan; penerimaan atas kematian bisa membantu manusia untuk hidup lebih otentik dan bahagia. Demikian juga dengan, Jasper, Simmel dan Frankl. http://humanisme-kebenaran.blogspot.com/2010/03/4-filsafat-psikologi-terapi-psikologi.html