Rabu, 27 Juni 2012
Konsep dasar dan tema Psikologi Eksistensial
1. Ada dan nonada
Ada ialah ukuran bagi keberadaan manusia, suatu dimensi yang mengacu kepada kesubjekan (subjectness) manusia. Dengan meng-ada, manusia hadir dan menampakkan diri, mengalami dirinya sebagai subjek yang sadar, aktif dan berproses. Sedangkan nonada adalah ukuran bagi ketiadaan manusia, suatu dimensi yang mengacu kepada keobjekan (objectness) dari manusia. Dalam nonada, manusia melakukan negasi atas keberadaannya, dan mengalami dirinya sebagai objek[5]. (Sartre, 1976)
Ernest Keen (1970) menegaskan bahwa, bagaimanapun, ada dan nonada adalah dua dimensi yang saling bergantung dalam memberi nuansa yang tegas pada keberadaan manusia, ibarat gambar dengan latar belakangnya yang membentuk sebuah lukisan. Sebuah lukisan menjadi jelas dan memiliki nuansa karena gambar (figure) yang terdapat di dalamnya ditopang oleh latar belakang (ground). Demikian pula dengan keberadaan manusia. Keberadaan manusia memiliki nuansa yang tegas karena pada dirinya terangkum ada dan nonada sekaligus. Artinya, manusia mengalami rasa ada (sense of being) atau menghayati keberadaan karena ia merangkum ada dan nonada.
2. Ada-dalam-dunla
Konsep ada-dalam-dunia (bahasa lnggris: being-in-the-world, bahasa Jerman: in-der- Welt -sein, bahasa Prancis: l,etre-dans-lemonde) diperkenalkan oleh Martin Heidegger artinya manusia hidup atau mengungkapkan keberadaannya dengan meng-ada di dalam dunia. Istilah ada-dalam yang digunakan oleh Heidegger memiliki arti yang dinamis, yakni mengacu kepada hadirnya subjek yang selalu berproses. Demikian pula, dunia yang dikemukakan oleh Heidegger itu harus dimengerti sebagai hal yang dinamis, yakni suatu dunia yang terbuka tempat keseluruhan keberadaan manusia terdapat, bisa hadir dan menampakkan diri, dan bukan dunia yang tertutup atau semata-mata suatu dunia fisis-geografis yang terbatas dan membatasi manusia. Heidegger sendiri menekankan bahwa ada-dalam-dunia adalah Seinkonnen, yang berarti manusia mampu berada. Jadi, ada-dalam-dunia itu tidak menunjuk kepada fakta beradanya manusia di dalam dunia seperti beras ada di dalam karung atau baju ada di dalam lemari, melainkan menunjuk kepada realitas dasar bahwa manusia hidup atau mengungkapkan keberadaannya di dalam dunia sambil merancang, mengolah, atau membangun dunianya itu. Patut dicatat pula bahwa manusia dan dunia, sebagaimana telah disinggung di muka, adalah suatu totalitas yang menjalin relasi dialektis (penggunaan tanda hubung dalam istilah ada-dalam-dunia itu pun sudah mengisyaratkan pandangan total dan dialektis dari Heidegger mengenai manusia-dunia). Totalitas dan dialektika manusia-dunia itu mengandung implikasi bahwa keberadaan dan perkembangan manusia tidak terlepas dari keberadaan dan perkembangan dunia.
Dalam kenyataannya, manusia akan berkembang jika dia mengembangkan (membangun) dunianya. Medard Boss, salah seorang pelopor penerapan ontologi Heidegger dalam praktek psikoterapi, menyuarakan kembali pandangan total dan dialektis manusia-dunia dari Heidegger itu melalui pernyataannya,... manusia tidak meng-ada terpisah dari dunia, dan dunia tidak meng-ada terpisah dari manusia. Jika.yang satu (manusia) berkembang, maka yang lain pun (dunia) aka berkermbang (Boss 1963)
3. RelasI Aku-Kamu
Martin Buber (1970) mengembangkan konsep relasi Aku-Kamu (the I-Thou relationship) untuk menggambarkan relasi antar pribadi yang sungguh-sungguh atau sejati, yang kontras dengan satu bentuk relasi yang disebut I-it relationship. Di dalam relasi Aku-Kamu, individu sadar dan menghargai partner relasinya sebagai subjek seperti dirinya, subjek dengan dunianya sendiri, subjek yang selalu berproses, dan subjek yang memiliki perasaan, pikiran, dan keinginannya sendiri. Sikap individu semacam ini memungkinkan individu tersebut memiliki kesediaan untuk memberikan empati kepada partner relasinya, yang pada gilirannya menjadikan individu sanggup mencoba membayangkan apa dan bagaimana dunia yang nampak dan perspektif subjektif partner relasinya itu. .
Berbeda dengan relasi Aku-kamu, dalam relasi yang disebut I-it relationship individu melihat partner relasinya bukan sebagai subjek, melainkan sebagai objek[6]; suatu objek yang bisa diabaikan maupun digunakan untuk kepentingan pribadi si individu. Jadi, dalam relasi semacam ini tidak terdapat kesediaan untuk memberikan empati kepada partner relasi dan, karenanya, tidak ada kesanggupan pada individu untuk memahami dunia partner relasinya. Jika I-it relationship ini diberlakukan dalam psikoterapi, maka berarti terapis memperlakukan pasien sebagai objek penerima treatment dan sebagai objek yang perbaikan atau kesembuhannya merupakan fungsi dan keefektifan terapis dengan treatment yang diberikannya itu. Relasi terapeutik yang demikian ditentang oleh para terapis eksistensial. (May, 1969)
4. Intensionalitas
Intensionalitas adalah konsep eksistensialisme yang mirip dengan prinsip determinisme psikis dari psikoanalisis, yang mengemukakan bahwa kejadian-kejadian mental tidak muncul secara kebetulan. Dalam arah yang sam tetapi dengan penekanan yang berbeda, konsep intensionatitas yang diambil para eksistensialis dari Brentano dan Hussert mengemukakan bahwa kesadaran manusia selatu memiliki maksud atau terarah kepada sesuatu. Rollo May (1969), dengan konsep intensionatitas, menegaskan bahwa kesadaran ditentukan oleh fakta bahwa kesadaran itu selalu mengarah kepada sesuatu, khususnya objek. Jadi, konsep intensionalitas ini merupakan konsep yang penting yang menjembatani jurang antara subjek dan objek yang ditimbulkan oteh dualisme Descartes. Agaknya Heidegger pun mengembangkan konsep ada-dalam-dunia berlandaskan konsep intensionalitas. Sementara itu Sartre, dalam usaha menunjukkan artifisialitas dualisme Descartes, menegaskan bahwa meja yang tertihat olehnya bukanlah meja yang ada dalam kepalanya (dalam kesadaran Sartre), melainkan meja yang ada di luar sana, di dalam ruang dunia nyata (Sartre, 1976).
Para eksistensialis juga menggunakan konsep intensionalitas untuk menerangkan persepsi. Mereka menekankan bahwa persepsi itu menuntut adanya kesediaan individu untuk melibatkan diri ke dalam aspek realitas tertentu yang (akan) dipersepsinya. Dengan perkataan lain, tindakan mempersepsi menuntut adanya intensi dari individu terhadap sesuatu yang akan dipersepsinya. Sebaliknya, jika individu tidak memiliki intensi (tidak memiliki maksud atau niat) kepada sesuatu, maka dia tidak akan mempersepsi sesuatu itu[7]. Dari. sini timbul keyakinan pada para Eksistensialis bahwa apa dan bagáimana persepsi individu terhadap suatu hal sedikit banyak dipengaruhi oleh intensinya terhadap hal tersebat.
Keyakinan para eksistensialis ini didukung oleh sejumlah penelitian yang menunjukkan bahwa persepsi dipengaruhi oleh harapan-harapan, anggapan-anggapan, dan kecenderungan merespons (set) yang ada pada diri individu (Allport, 1955).
5. Keberadaan otentik dan keberadaan tidak otentitik
Konsep keberadaan otentik (authentic existence) dan keberadaan tidak otentik (inauthentic existence) juga merupakan konsep yang fundamental bagi para eksistensialis dan para ahli psikologi eksistensial.
Keberadaan yang tidak otentik adalah keberadaan individu yang mengukuhkan dirinya dengan cara atau untuk tujuan menghindarkan diri dari wujud-wujud nonada, yakni keniscayaan-keniscayaan hidup yang terdiri atas kematian, keharusan memilih dan memikul tanggung jawab, isolasi dan ketidakbermaknaan.
Ia tidak berani untuk mengambil hidup dengan segala keterbatasannya, penderitaan, kematian, tanggung jawab dan lain-lain. Ia mengukuhkan dirinya bukan untuk dirinya. Ia mencari sukses lewat status, dan sukses menurutnya adalah adanya tepuk tangan penonton. Ia selalu melihat penopangan dari orang lain sebagai bagian pengukuhan dirinya (self affirmation). Keberadaan ini tidak utuh dan rapuh.
Sebaliknya, dalam keberadaan yang otentik, individu sanggup mengukuhkan dirinya tanpa mengingkari keniscayaan-keniscayaan hidup (tidak mengingkari bahwa dirinya akan mati, bahwa dirinya harus membuat pilihan-pilihan atau putusan-putusan yang vital bagi hidupnya, bahwa dirinya bisa mengalami isolasi dari sesama dan mengalami ketidakbermaknaan), juga tanpa mengikat orang lain dan tidak menggantungkan diri pada orang lain. Keberadaan otentik merupakan gambaran ideal bagi para Eksistensialis dan terapi Eksistensial.
http://humanisme-kebenaran.blogspot.com/2010/03/4-filsafat-psikologi-terapi-psikologi.html
