Rabu, 27 Juni 2012

Teori Kepribadian dan Psikopatologi

Biswanger-Boss Seperti para Eksistensial lainnya, ia menolak kalau kepribadian dianngap sebagai sekumpulan sifat yang tetap pada manusia. Mereka mengatakan bahwa kepribadian itu dinamis. Sebab mereka percaya ada-dalam-dunia ala Heidegger, dimana manusia dan alam sama-sama berkembang. Manusia menghayati alamnya, dengan penghayatan itu maka diri manusia berkembang dan berkembang pula dunia yang dia alami. Ada-dalam-dunia, oleh Biswanger-Boss dibedakan menjadi 3 yaitu; a) ada-dalam-alam (being-in-nature), b) ada-bersama-orang lain (being-with-other) dan ada-bagi-diri-sendiri (being-for-oneself). Ini adalah hal umum yang dialami oleh manusia. Ada-dalam-alam (bagaimana menghayati alamnya, laut, darat dan seterusnya). Ada-bersama-orang lain (kesosialan manusia, apa ia bisa berhubungan dengan orang lain atau tidak). Apakah dengan berhubungan social ia menjadi altruisme, egoisme atau menjadi dirinya sendiri. Yaitu ada-bagi-diri-sendiri. Disini diandaikan dengan kedua hubungan diatas, manusia tetap menjadi subjek, mampu melakukan refleksi untuk perbaikan-perbaikan, sehingga ia mampu menjadi person. Unik, dengan pilihannya dengan rasa tanggung-jawabnya. Dalam hidupnya manusia mengalami “perkembangan keberadaan”, dimana dengan segalanya (ketiga tahapan diatas), manusia mampu mengisi segala kemungkinan-kemungkinannya. Manusia yang hidup dengan sungguh-sungguh, ia akan berusaha untuk merealisasikan segala kemungkinannya, segala kemungkinan bawaannya. Dan manusia dengan kebebasannya mampu untuk merealisasikan itu secara potensial. Individu yang menolak merealisasikan kemungkinan-kemungkinannya sendiri, berarti menghindari tanggung-jawab. Dan penghindaran ini berarti manusia hidup tidak otentik. Penolakan atau kegagalan individu dalam menjalankan mandatnya untuk merealisasikan kemungkinan-kemungkinan dari keberadaannya akan melahirkan “dosa-Eksistensial” (Extential quilt) sebagai hukuman atas diri individu.[11] Dalam merealisasikan dirinya, manusia punya keterbatasan sebab ia adalah mahkluk yang terlempar (throwness) meminjam dari Heidegger. Manusia waktu lahir dengan segala keterbatasan yang melingkupinya. Tubuhnya, lingkungannya, genetikanya, orang-tuanya dan seterusnya. Demikian juga dengan pilihannya karena keterbatasannya tadi maka ada “opportunity-cost” (biaya kesempatan, meminjam istilah ekonomi, [MA]) artinya karena kekurangan yang manusia punya, bila ia memilih satu pilihan untuk memperoleh realisasi potensi “X”, maka ia menghilangkan kemungkinan realisasi potensi “Y” dan seterusnya. Walau tidak mungkin untuk “sempurna”, tetapi “optimalisasi dengan batasan”[12] (bahasa ekonomi lagi, [MA]) harus diupayakan. Kalau tidak manusia tidak otentik dan bisa malah psikopatologi. Rollo May Ia menyoroti beberapa masalah yaitu kekosongan; katanya, kekosongan adalah kondisi individu yang tidak mengetahui lagi apa yang diinginkannya dan tak lagi memiliki kekuasaan terhadap apa yang terjadi dan dialaminya. Ini banyak dialami dalam masyarakat modern..mereka kanya bisa merespon, tetapi tidak bisa memilih respon apa yang paling baik buat kediriannya. Contohnya adalah manusia giroskop (takut mati, dengan segala kekuasaan yang dimiliki), apatis, pasivitas dan lain-lain. Kesepian, ini dialami masyarakat modern karena rutinitas, robotisasi dan alienasi. Mereka takut ditolak oleh sesama, dan memiliki hasrat untuk diterima orang lain. Mereka berkegiatan bersama, pesta dan lain-lain, ini semua bukan didasari oleh kehendak untuk menciptakan kebersamaan dan saling membagi pengalaman dalam kehangatan manusiawi, melainkan semata-mata didasari oleh ketakutan berada sendirian atau ketakutan diisolasi oleh orang lain. Kesendirian ditakuti bukan karena kesendiriannya, melainkan karena dengan itu maka individu itu akan kehilangan diri dan keberadaannya.[13] Kecemasan juga merupakan hal lain dalam manusia modern. Mereka tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperankan dan dimainkan, asas-asas apa yang harus diikuti. Semuanya sudah otomatisasi, globalisasi, efisinsi dan seterusnya.[14] Tetapi manusia juga memiliki kesadaran diri yaitu kapasitas yang memungkinkan manusia mampu mengamati dirinya sendiri maupun membedakan dirinya dari dunia (orang lain), serta kapasitas yang memungkinkan orang mampu menempatkan dirinya didalam waktu (masa kini, lampau dan datang). Viktor Frankl[15] Ia mengatakan, dengan menggunakan kebijaksanaan dari Nietzsche; “Dia yang mengetahui untuk apa dia hidup, akan bisa mengatasi hampir semua yang terjadi atas dirinya”. Frankl berkeyakinan bahwa kita bebas, dan salah satu kebebasannya adalah bebas berkeinginan. Hanya pasien skizopren yang dihinggapi delusi bahwa keinginan-keinginan dirinya dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan luar, juga para filosof determinstik. Manusia tidak bebas dari kondisinya, tetapi manusia itu bebas untuk mensikapi kondisi tersebut. Disamping itu, menurut frankl; manusia adalah mahkluk yang motivasi utamanya dalam hidup adalah “mencari makna”. Ia mengatakan bahwa kesenangan, kebahagiaan bukanlah tujuan, bila itu yang dituju, menjadi tujuan, justru itu tak akan tercapai. Kesenangan, kebahagiaan adalah efek samping dari hikmat, menjalankan sesuatu untuk kehidupan. Sukses juga bukan tujuan, tetapi efek samping dari dedikasi dam pengorbanan untuk peradaban, manusia lain dan seterusnya. Penciptaan makna adalah tanggung-jawab yang harus dipikul oleh manusia. Roland Liang Dia mengatakan bahwa apabila kita secara simpatik ikut merasakan dunia para pasien skizopren, maka kita akan menemukan bahwa emosi-emosi dan tingkah-laku se pasien adalah respon yang alamiah terhadap situasi-situasi yang secara Eksistensial membahayakan dirinya. Liang mengkritik lingkungan rumah sakit yang tidak memberikan upaya pasien untuk reintegrasi diri… mereka memperlakukan itu sebagai “salah”, dengan perlakuan-perlakuan orang-orang yang “salah”. Bukan sebagai pasien yang merespon kondisi yang membuatnya seperti itu. http://humanisme-kebenaran.blogspot.com/2010/03/4-filsafat-psikologi-terapi-psikologi.html